Di Bumi Manusia Iqbal Tak Ubahnya Seperti Saya di Kampung Inggris

KAMPUNG INGGRIS – Barangkali saya adalah satu dari kesekian orang yang lantang berteriak (di twitter), memprotes tidak setuju, ketika mendengar bahwa novel Bumi Manusia akan diadaptasi menjadi film. Saya yang sejak awal menasbihkan diri sebagai Nyai Ontosoroh lover dari garis setengah keras, rasanya kurang ikhlas-seikhlasnya, jika novel yang sangat saya kagumi ini direpresentasikan oleh Hanung Bramantyo.

Hanung, adalah sutradara yang kerap membuat saya kecewa, ketika ia menggarap film-film berlatar sejarah khususnya. Sebut saja film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Kartini (2017), dan Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018), adalah beberapa karya Hanung yang jauh dari ekspektasi saya. Kemegahan visual yang merupakan ciri khas Hanung, tidak begitu seirama dengan pengangkatan subtansi cerita sejarahnya, delivering pesannya terkesan amburadul dan kehilangan fokus pada intinya. Kegeraman saya makin menjadi, ketika mengetahui bahwa tokoh utama yang dipilih Hanung untuk memerankan Minke adalah Iqbal Ramadhan, aktor yang masih melekat sosok Dilan, tokoh yang memiliki citra slengekan, yang tentu saja kontras dengan karakter Minke dalam novel Bumi Manusia.

Akan tetapi, protes publik yang menggema dijagat dunia maya kala itu, tidak lantas menghentikan langkah Falcon dan Hanung. Tanggal 15 Agustus 2019, film Bumi Manusia pada akhirnya tayang serentak di bioskop Indonesia. Walaupun saya marah, tidak sepakat, dan kecewa, saya tetap memutuskan untuk menontonnya-hal ini semata-mata agar saya menjadi pengkritik film Bumi Manusia yang kaffah.

Malam sebelum menonton Bumi Manusia, saya sempat berjelajah terlebih dahulu di dunia maya, di Twitter. Dengan menggunakan tagar Bumi Manusia, saya susuri timeline. Saya sedikit terkejut, tidak menyangka dengan apa yang saya dapati, hampir sebagian besar akun-akun yang sudah menyaksikan Bumi Manusia saat Gala Premiere-memuji, mengapresiasi Hanung dengan Bumi Manusia-nya. Hanung dinilai sanggup mengejawantahkan pesan Pram di filmnya. Ekpektasi saya yang awalnya sangat rendah untuk film Bumi Manusia, tiba-tiba terdongkrak menuju posisi netral, setelah membaca beberapa kicauan review yang ada. Yang semula saya menyepelekan, akhirnya berubah menjadi  penasaran.

Walhasil, dengan membawa tanda tanya besar karena penasaran dari semalam, saya memasuki gedung bioskop, duduk di baris urutan kedua dari belakang, bersebelahan dengan beberapa gadis seumuran SMA. Rupanya tempat duduk hampir terisi penuh- hal ini terlihat, ketika kami semua berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama sebelum film memasuki adegan awal.

Kurang lebih 181 menit saya duduk tenang menikmati film ini, tanpa sekalipun menengok getaran pesan yang masuk di gawai. Film berakhir, lampu ruangan dinyalakan, saya masih terdiam. Saya akhirnya menyadari dan memahami sanggahan teman saya beberapa bulan yang lalu-perihal polemik diangkatnya novel ini ke media film oleh Hanung. Ia mencoba memberikan penilaian bijak saat itu, bahwa antara film dan novel itu tidak dapat diperbandingkan, karena keduanya memiliki dimensi yang berbeda, novel tidak dapat dijadikan alat ukur untuk menilai karya Audio Visual.

Baca Juga:  Kampung Inggris juga Ikuti Upacara Kemerdekaan di Situs nDalem Pojok

Bagi saya, secara garis besar Hanung mampu mewujudkan tujuannya, menyajikan cerita Bumi Manusia untuk generasi milenials. Ya, Hanung kerap melontarkan pernyataan itu di berbagai kesempatan. Saya menganggap, sasaran film Bumi Manusia sengaja diungkapkan, untuk mengikat konteks, agar penafsir mampu menempatkan, dan menilai karyanya secara adil.

Tangan indah penulis skenario Bumi Manusia, Salman Aristo, sungguh patut untuk saya berikan ruang apresiasi lebih. Media film- yang sekali lagi berbeda dengan karya tulis- tidak memiliki fitur fotenote sebagai keterangan tambahan. Disinilah kepiawaian penulis skenario, ia tambahkan adegan cerita yang tidak ada di novel, untuk memberikan penjelasan lebih kepada penonton yang belum membaca novelnya. Itu saya sadari di scene awal, ketika ada adegan perlakuan londo totok kepada nyai. Narasi visual tersebut dihadirkan untuk menjelaskan dan memperkuat pesan, bahwa nyai kala itu dianggap tak lebih rendah dari budak atau hewan.

Selain itu, ada adegan pengusiran dari tempat duduk oleh Robert Mellema kepada Minke di awal pertemuannya, juga ada adegan perlakuan diskriminatif Opsir Belanda perihal alas kaki antara nyai dan Annelis waktu di tempat sidang. Semua itu, jika saya tidak salah ingat, adalah beberapa wujud penjelasan tambahan yang tidak saya temukan di novelnya. Oleh karenanya, Salman adalah kunci penting di proyek besar ini. Ia mampu mewujudkan dan mengejawantahkan tujuan Hanung-yang telah saya singgung di awal.

Perihal akting, selain kemampuan spesial Sha Ine Febriyanti yang mampu memerankan Sanikem a.k.a Nyai Ontosoroh- aktor yang tak kalah mencuri perhatian saya adalah Whani Darmawan, pemeran Darsam. Whani begitu total menjadi Darsam, karakternya kuat, dari gesture, logat madura, sampai visualnya begitu sempurna, bahkan mendekati sosok imajinasi saya. Tak ketinggalan, Ayu Laksmi, yang berperan sebagai ibu Minke, patut untuk diberikan apresiasi. Ia mampu merepresentasikan bagaimana sifat keibuan yang bercitarasa Jawa, layaknya gambaran ibu Minke di novel.

Sedang untuk Iqbal dan Mawar Eva de Jong, ia saya anggap sebagai amunisi Hanung saja, untuk merealisasikan tujuan, menjarah perhatian generasi millenials yang belum mengenal karya Pram sebelumnya. Untuk visualisasi latar dan grading, Hanung memang jagonya, jadi tak perlu untuk dikasih ulasan lagi. Kehadiran aransemen lagu Ibu Pertiwi di awal dan akhir film- yang dibawakan oleh Iwan Fals, Once Mekel, dan Fiersa Besari-mampu menghidupkan daya magis film ini, vibrasinya luar biasa bagi saya.

Baca Juga:  TOEFL adalah Propaganda Amerika Serikat?

Pada akhirnya, Saya berfikir sejenak, mencoba menerka, bahwa Hanung sesungguhnya sedang menerapkan konsep hermeneutik Heidegger dalam pembacaan novel Bumi Manusia. Ia menangkap proyeksi sang empunya novel dalam membuat karyanya. Pram, mungkin saja- ketika menulis Bumi Manusia-memproyeksikan tulisannya untuk masa depan, menunjukkan sisi kolonialisme pada pembaca yang tidak pernah merasakan atau mengalaminya. Dan Hanung berhak menafsirkan karya Pram untuk dijadikan karya sesuai proyeksi dari pengarang, dalam hal ini Hanung sebagai sutradara film. Hanung layaknya Pram dalam membuat karya, punya proyeksi pembaca teks, hingga ia merepresentasikan kolonialisasi dalam ruang dan waktu yang berbeda. Ia barangkali paham, pembaca teksnya, sebagian besar adalah generasi millenials.

Saya bukan terdidik, tapi saya ingin mencoba berlaku adil dalam menilai film Bumi Manusia karya Hanung. Hanung, bagi saya, dapat dikatakan sukses menyampaikan pesannya kepada generasi yang ditujunya, terbukti, ketika saya berjalan keluar dari gedung bioskop, banyak celetukan terdengar, yang kurang lebih mempertanyakan perlakuan Belanda: “masak sampek sediskrimantif begitu sih Belanda”, “Owalah, nyai itu gundik toh, sakno ya tibak e urip e, koyok budak e londo” dst. Percikan penasaran akan Nyai, dan cerita kolonialisasi sudah dipantik oleh Hanung pada generasi millenials, dan itu patut untuk saya apresiasi.  Bukan tidak mungkin, atas dasar rasa penasaran, mereka akan timbul keinginan untuk melacak sejarah kolonialisasi di Indonesia selanjutnya.

Sek sek.. kok jadi review gini, lantas apa hubungannya dengan judul di atas, tidak nyambung banget ya.. (I know what you are thinking about).

Oke, jadi gini guys, Iqbal memang tidak terlalu mengecewakan banget dalam mengambil peran Minke -tokoh utama di film Bumi Manusia- paling tidak ia telah mampu membunuh sisi Dilan dalam dirinya di film ini. Sedikit yang perlu saya komentari, adalah logat Dilan yang terdengar masih kaku ketika berdialog menggunakan bahasa Jawa, ini tak ubahnya seperti saya ketika melafalkan kosakata bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, istilahnya masih medok. Dan hanya segitu saja kemiripan saya dengan Dilan, yang lain bisa dikatakan jauh. Eh… tapi ada kesamaan lagi ding, bahwa saya dan Iqbal sudah mencoba berusaha dan belajar, sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.