Gundala Tak Perlu Keminggris Untuk Jadi Pahlawan Super

Gundala Tak Perlu Keminggris Untuk Jadi Pahlawan Super

KAMPUNG INGGRIS – Setelah sukses menggarap film Pengabdi Setan, sang sutradara , Joko Anwar sempat bertanya di akun twitter-nya. Kira-kira film seperti apa yang diharapkan oleh follower-nya untuk ia garap selanjutnya, jawaban di kolom komentarnya bermacam-macam, dan saya adalah salahsatu dari kesekian follower-nya yang menginginkan dia menggarap film superhero rasa Indonesia.

Selang beberapa bulan, kalau saya tidak salah ingat, tiba-tiba ada release kabar bahwa Joko Anwar akan menggarap proyek film Gundala. Padahal sepengetahuan saya, film ini pernah terdengar akan di-remake oleh Hanung. Mengetahui Gundala akan diangkat ulang, saya menjadi ber-romantisme. Ingatan saya tiba-tiba terbawa ke masa kecil, saat menonton film Gundala Putra Petir bersama bapak di layar kaca, film superhero pertama Indonesia yang saya ingat.

Gundala merupakan film pembuka dari BCU (Bumi Langit Cinematic Universe) Jilid 1. Terdengar kabar, bahwa film ini telah menelan biaya produksi sekitar 30 miliar rupiah, sebuah angka yang besar untuk produksi film Indonesia. Sebagai film pembuka, tentu film ini punya tugas yang tidak mudah, ia harus sukses, mampu menjadi jalan untuk film-film BCU selanjutnya.

Dipilihnya Joko Anwar sebagai sutradara untuk film Gundala, cukup mengamankan ekspektasi saya dan BCU saya kira. Hal ini berkaca pada beberapa film yang pernah disutradarainya, khususnya yang membuat saya terkesan: Pengabdi Setan (2017) dan A Mother’s Love (2018).

Setelah perkenalan besar-besaran perihal pemeran tokoh-tokohnya dan judul film yang akan dibawa BCU jilid 1, Gundala akhirnya resmi tayang serentak di bioskop se-Indonesia tanggal 29 Agustus 2019. Dan di tanggal itu pula, saya langsung tancap gas untuk menontonnya, ingin segera menjawab ekspektasi pribadi akan film Gundala.

Well, langsung saja!

Secara narasi cerita, film Gundala 2019 ini sangat berbeda dengan film Gundala yang diproduksi tahun 1987. Saya memaknai bahwa Joko Anwar ingin membawa cerita Gundalanya lebih membumi, tidak terlalu keminggris (kebarat-baratan), bercita-rasa lokal, dengan unsur-unsur cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Isu-isu seperti politik, ketimpangan sosial, tentang kesejahteraan, kekuasaan-aromanya sangat kental terasa di keseluruhan narasi. Konflik yang dihadirkan pun cukup mudah kita temui di keseharian kita, khususnya di kota-kota besar Indonesia.

Baca Juga:  Anggur Merah Minuman yang Bikin Lancar Ngomong Inggris?

Joko Anwar, jika saya tidak salah menangkap, lagi-lagi menguatkan citranya, bahwa dia adalah salah satu sutradara yang piawai mengetengahkan cerita drama keluarga di setiap filmnya. Hubungan antara anak dan orang tua, selalu ia garap serius di karyanya, termasuk di film Gundala. Ia tidak berhenti pada film A mother’s Love, di mana film yang sebenarnya bertema horor dikuatkan narasinya ke ranah drama emosional keluarga. Hal itu rupanya ia ulangi lagi di film Gundala ini, film bertema superhero, ia padukan dengan isu hubungan keluarga dan dampaknya. Dialog-dialog yang bernuansa relationship disertai joke khasnya Joko Anwar masih banyak mewarnai di film Gundala.

Menyadari bahwa Gundala adalah film pemberi jalan pembuka untuk film BCU selanjutnya. Joko Anwar tidak main-main ketika memilih para pemeran tokohnya. Ia bawa ulang beberapa aktor dan aktris yang pernah sukses bekerjasama dengannya. Tara Basro, Bront Palarae (pemeran utama Pengabdi Setan), beserta satu paket pemeran ibu dan anak di film A Mother’s Love, Marissa Anita dan Muzakki Ramdhan, yang juga berperan sebagai ibu dan anak (Sancaka/Gundala).

Aktor kawakan seperti Lukman Sardi, Ario Bayu, Pritt Timothy, Cecep Arif Rahman dan aktor populer yang muncul di akhir film menambah kepercayaan, bahwa film ini memang tidak main-main dalam penggarapannya. Oh ya, Joko Anwar ini masih cukup ciamik, dan berbakat dalam meng-casting pemeran anak-anak di filmnya.

Sayang, jika saya boleh berkomentar, bahwa banyaknya tokoh penting yang dihadirkan di film pembuka ini, malah membuat narasi jalan cerita agak terlihat sedikit kedodoran, agak terkesan tidak fokus, sehingga kehilangan kekuatan di plotnya. Saya menyadari beban film Gundala ini, bahwa sebagai film awal proyek besar BCU, mungkin beberapa tokoh memang dibiarkan mengambang, agar bisa di-explore lebih di film selanjutnya. Bahkan jika pun alasannya seperti itu, pemantik teka-teki untuk membuat/memunculkan penasaran, bagi saya, ini masih sedikit terlihat terlalu dipaksakan.

Baca Juga:  Kampung Inggris Bercerita #3

Perihal grading di film Gundala. Ini memang khas banget dengan sutradaranya, si Joko Anwar, yaitu mempertahankan nuansa Vintage. Hingga beberapa properti, dan setting lokasi yang dipilih, menjadi faktor pendukungnya. Akan tetapi saya agak terganggu dengan kehadiran gawai — tanda generasi millenial — yang malah membuat kontras dengan setting lokasi, waktu, properti, dan nuansa yang ada. Smartphone menjadi properti perusak yang saya anggap fatal, terasa mengganggu logika.

Tentang Gundala yang merupakan film action berlatar kisah kepahlawan, mau tak mau memang dituntut untuk sering menampilkan adegan perkelahian. Pemilihan aktor yang mumpuni, didukung dengan koreografi yang serius, sebenarnya sudah cukup menjanjikan. Sayang, di beberapa adegan (walaupun sedikit) saya mendapati ada pengambilan gambar yang kurang enak ditangkap mata (kayak nge-shake, yang membuat pening kepala), seperti ada gambar yang kurang padat, saya tidak tahu mengapa.

Oh ya, Sesuatu yang patut diberi apresiasi lebih pada Gundala, adalah scoring filmnya. Saya benar-benar merasa puas dimanjakan dengan latar musik dan efek-efek suara selama film berlangsung. Penataan musiknya sangat rapi, dan terdengar sangat konsisten di setiap adegan. Ini adalah pengalaman pertama, yang saya rasakan ketika menikmati film Indonesia. Joosss pokoknya.

Barangkali, selain karakter pak Agung, hal yang memberikan kesan lebih  pada film ini, adalah munculnya adegan di credit scene. Gagasan tersebutlah, yang membuat saya semakin penasaran dengan film-film lanjutan dari proyek ambisius BCU.

Jika kebenaran yang disembunyikan adalah musuh umat manusia yang paling berbahaya, maka informasi yang disembunyikan dalam film Gundala ini, adalah hal yang patut untuk diberi tepuk tangan.

Skor: gak ada gunanya baca review dan lihat skor, jika tidak menonton sendiri. Seperti halnya, tidak ada gunanya hidup, jika selalu mikirin diri sendiri.