Kampung Inggris Bercerita #1

Sepotong Ketan Untuk Pacarku

KAMPUNG INGGRIS – Entah, Aku suka apa tidak dengan suasana pagi di warung ini. Warung yang letaknya di ujung timur Kampung Inggris Pare. Toh, Aku masih juga duduk di tempat yang sama, seperti kemarin, seperti 6 tahun lalu, lengkap dengan pasangan minuman di meja beserta sepasang ketannya, bertoping susu dan original. Adapun barangkali yang berbeda, akhir-akhir ini Aku banyak diamnya dan hanya memilih memandang lalu lalang pembeli warung dan anak-anak yang bersepeda di seberang jalan.

Suatu kali mampu kutangkap pandang, muda-mudi yang berboncengan sambil tertawa, walau Aku tak dapat mendengarnya, tapi dapat kulihat, mereka sedang bersuka cita. Keceriaan itu kurang lebih sama dengan dia. Dia yang selalu manja, yang selalu dengan mudah membuatkan warna dalam sebuah kisah, tentu saja kisahku dan dia.

“Mas, kalau kita menua. Mas masih mampu boncengi aku dan dia?”
“Dia siapa???” Aku kaget sekaligus penasaran.
“Aku ama anak kita lah, masak sama tetangga”
“Hahahahaha, jangankan kamu ma anak kita, ama mertua sekalian pun Aku kuat, jika itu dapat mengekalkan tawamu.”
Aku dan dia pun tertawa bersama, lagi.

“What a pity you are!”
Tiba-tiba suara cewek yang ngobrol dengan teman kursusnya di ujung bangku sebelah terdengar sangat keras. Menyentakku, menyadarkanku untuk kembali mengaduk kopi, yang entah sudah berapa kali Aku aduk, namun belum kuseruput juga. Pada satu meja di samping kopiku, selalu ada susu jahe milik dia. Tiap hari kupesankan itu untuknya, dengan ketan toping susu kesukaannya. Biasanya, setelah beberapa menit kemudian, dia akan datang dengan wajah ceria, buru-buru menghabiskan itu semua dengan sesekali melirikku memakai wajah haha hihi. Setelah itu, kita biasanya bersepeda bersama menuju kelas kursus.

Baca Juga:  Beginilah Lingkungan Yang Hanya Ada Di Kampung Inggris Pare

Awal pertama aku mengenalnya, itu sudah 6 tahun yang lalu, saat Ia menjadi member di kelasku. Dia sangat antusias dalam belajar bahasa. Hampir setiap hari di kelas dia selalu bertanya. Dan di setiap jawabanku, dia selalu merasa tidak pernah puas, dia pasti ingin membahasnya dan mendiskusikannya lagi after class, malam hari, sambil menikmati kopi. Pada akhirnya kopi pun berganti hati, kita ingin berbagi hati lagi dan lagi di hari berikutnya.

Ia mulai merancang cinta dan masa depan kita. Ia benci merindu, maka ia putuskan untuk mengamankan selalu jaraknya denganku. Rencana awal kursus selama 3 bulan, ia jadikan pijakan untuk membuat pilihan. Ia putuskan, untuk menempuh pendidikan kebidanan di Pare saja,
“Cinta kita adalah yang utama, biar yang lain ngalah, ngikut aja apa kata rindu kita, termasuk kuliah”. Itulah salah satu kesukaan Aku saat bersama dia. Di matanya semua seolah-olah terlihat begitu mudah, senyumnya selalu mengalahkan ragu dan tanda tanya.

“What time is it?” Pemuda yang masih medok pronunciation-nya, yang sedari tadi duduk bergerombol bersama teman-teman kursus di meja panjang, menjadi alarm bel. Kelas kursus segera dimulai, waktunya untuk bergegas berangkat bersama-sama. Dari kejauhan masih kuamati mereka, sembari bersepeda, mereka masih melanjutkan obrolan grammar dan verb yang sejak tadi dibahasnya.

Warung perlahan sepi dalam artian sebenarnya, bukan dalam arti sesuai suasana hatiku sedari tadi. Memang, ini sudah jam 9, seharusnya dia sudah datang, sudah menyajikan senyum dan tawa padaku. Menyeretku untuk bergegas bersepeda bersama.

Aku masih ingat, terakhir kecantikannya tersaji di sini, itu terjadi setahun silam. Saat ia telah selesai wisuda, dan berencana untuk bicara serius dengan orang tuanya perihal keseriusan hubungan kita. Ia memang telah mampu meyakinkan diriku, bahwa menikah dengannya adalah sesuatu yang menjadikan bahagia menuju titik sempurna. Oleh karenanya, Aku percaya bahwa dia pun akan mampu meyakinkan orang tuanya, dengan senyumnya, dengan keoptimisannya.

Baca Juga:  Kampung Inggris Sudah Punya Patriot

“Tenang, Mas, dengan kekuatan cinta, semua akan mudah pada waktunya. Mas bantu doa aja ya. Kalau bisa doanya tiga bahasa lho ya, Inggris, Indonesia, dan Jawa, yang Arab biar aku saja.. hehehe”
Mobil jemputan Bandara Juanda telah mengambilnya dari pandanganku, dari masa depanku.

Nada pesan WA yang dari tadi berbunyi kubiarkan saja. Aku masih trauma membuka pesan WA di bangku warung ini. Terakhir Aku membukanya ketika dia memberikan kabar, bahwa pernikahan kita direstui orang tuanya, dengan syarat sebuah mahar. Mahar yang nilai puluhan juta. Pesan obrolan itu pada akhirnya ditutup dengan kata maaf, dari aku dan dia, lengkap dengan emot mata berkaca.

Ia minta maaf karena usaha dia tak mampu membuat keadaan menjadi mudah, sedang maafku karena tak sanggup membangun candi seketika untuknya. Aku hanya tutor, yang masih bisa dikatakan jauh dari kata kaya untuk mengiyakan permintaan orang tuanya, jika pun bisa, itu butuh waktu berpuluh tahun lamanya.

Cinta adalah milik kita, sedang pernikahan terlalu banyak kepemilikannya. Menikah bukan penyatuan aku dan dia rupanya, ia lebih daripada itu, ada perspektif keluarga, ada komunikasi antar suku ataupun agama yang perlu digabungkan juga.

“Sir, ayo, anak-anak udah nungguin di kelas”
Akhirnya, kutinggalkan susu jahe dan seporsi ketan dengan sisa air mata di meja.

*Kampung Inggris Bercerita #1 ini dirangkum dari kisah nyata salahsatu tutor di Kampung Inggris, Pare.