Kampung Inggris Bercerita #2

Farewell Party, Pesta Air Mataku

KAMPUNG INGGRIS – Bising penumpang di sekitarku, tak ubahnya dengan suasana Farewell Party di Kampung Inggris Pare kemarin lusa. Aku mengalami kesepian di ruang keramaian, menemukan rasa hambar di tengah hingar-bingar. Aku berairmata dalam lingkaran gelak tawa. Kenangan penuh luka itu akhirnya mengejawantah, juga.

Perjalanan menuju Bandung masih separuh waktu. Dan saat itu, kaca jendela kereta tiba-tiba teraliri tetesan air hujan yang berkejaran tak tertata. Aku pun bersyukur, tetesan air di pipi ini pada akhirnya ada yang menemani. Ia terlalu lama sendiri, bersedih.

Entah, mengapa sedih ini terus mengikutiku, yang pasti sergap dari wajahmu, gambaran momen tawa kita, selalu datang menggantikan realitas yang ada. Aku tak mampu menghindar ataupun mengontrolnya karena ia indah sekaligus luka.

Di depanku, seorang gadis telah mengisi bangku kosong. Ia mengenakan earphone di kedua telinganya. Wajahnya terlalu fokus pada layar smartphone-nya. Jari-jemarinya sangat cekatan mengetik, dibarengi dengan mimik wajah yang berbunga-bunga. Tetiba Aku melihat diriku padanya saat awal kenal dengan Masku, 6 bulan yang lalu.

Pria yang kemudian Aku panggil dengan sebutan Mas ini, kukenal saat kami satu kelas di lembaga kursus bahasa Inggris, di Kampung Inggris, Pare. Kami kala itu sama-sama berstatus sebagai member baru, baru datang juga, ingin mengisi liburan dengan hal yang berfaedah. Kedekatan kita terajut perlahan dan begitu mudah.

Di suatu kafe, di sudut Kampung Inggris, Pare, malam-malam sering kami habiskan dengan berdebat, berdiskusi, mendalami materi kursus yang kami dapat di separuh hari yang telah kami lalui. Tapi tawa dan senyum bahagia pada akhirnya menutup hari yang kita jalani. Selalu, senyum manis itu ikut terbawa, mengantarkan Aku menuju mimpi indah di kamar asrama.

Debaran jantungku pada akhirnya mendapati puncaknya, setelah 5 bulan kita bersama. Kata cinta yang ia katakan dengan suara lirih dan nada halus, mampu menghujani dunia ini dengan bunga-bunga seketika. Hati bergetar, aliran darah semakin cepat, pipi memerah, saat aku terima kata dan tatapan matanya. Kubiarkan ia mengatur keseimbangan dengan pelukan.

Baca Juga:  5 Manfaat Belajar di English Area Camp Kampung Inggris

Sejak ia ungkapkan perasaan dan Aku menerima, peristiwa-peristiwa yang kami lalui setelahnya bagaikan runtutan sajak-sajak indah yang terlahir dari pujangga yang dikirim dari surga, semua serba indah. Aku ingin dunia seperti ini saja selamanya.

“Nasi Gorengnya mbak?” Penjajah makanan kereta tiba-tiba sudah berdiri di depanku saja. Beberapa menit kubiarkan dia menganalisa keadaanku. Gelengan kepala dariku, cukup sebagai tanda bagi dia, untuk mencukupkan melihat kondisi kesedihanku. Ia pun berlalu, melanjutkan tawaran makan malam kepada penumpang lainnya.

Makan malam? Sejak kapan Aku terakhir menikmati makan malam? Aku lupa atau tak ingin lagi merasakannya, entah. Yang kuingat hanya makan malam terakhir bersamanya. Itu terjadi sesaat sebelum kita merayakan Farewell Party.

Kampung Inggris saat itu gerimis, dan aku tak menduga gerimis itu akan menjadi tangis pada akhirnya. Kenangan manis dalam hitungan satu purnama penuh, pada akhirnya ditutup dengan kata perpisahan sendu darimu. Kata putus darimu, menyudahi rajutan cinta yang telah kau awali sebulan yang lalu, hari ini kau merobeknya, hancur dan tak kau berikan sisa.

Kata-katamu malam itu tak lagi menjadi sajak bagiku. Itu hanya kumpulan argumen dari pria yang bersembunyi dari ketakutannya, kata-kata yang terbangun dari asumsi belaka. Kata-kata yang tak memiliki jiwa, dibangun dari rasio belaka, tanpa mendengar dan memahami hati yang terluka.

“Aku takut tak kuat menahan rindu, karena jarak kita akan saling jauh. Aku mencintaimu, tapi jarak harus menghentikan gerak, gerak langkah kita bersama, gerak tumbuh cinta kita, maafkan aku ya”, kau ucapkan kata itu sambil menggenggam erat tanganku, di meja yang masih dipenuhi sisa makan malam kita.

Baca Juga:  5 Hal yang Bakal Buat Kamu Rindu Kampung Inggris

Kutarik tanganku dari genggamanmu dengan cepat, untuk segera kutempatkan pada luncuran air mata yang jatuh melewati pipiku.

Tak tahukah engkau, keputusanmu itu adalah awal dari robohnya bangunan persepsiku padamu. Aku yang mengganggap engkau sebagai sosok lelaki kuat, pemberi asa, dan penumbuh bahagia di jiwa, pupus sudah. Engkau rupanya sudah patah arang sebelum berjuang, engkau memilih mundur, padahal kita bisa membangun jalur, lewat pinutur. Engkau memilih kalah daripada merawatnya dengan doa dan usaha.

Akan aku terima, walaupun itu menyesakkan juga, walau itu akan menjadi luka yang akan terus mengangah. Tapi cinta telah mengajariku untuk tak membencimu. Cinta itu memberi, maka biarlah luka ini akan kuubah menjadi doa bagi bahagiamu pada akhirnya. Sedari awal Aku telah memutuskan untuk menerimamu. Jika keputusanmu itu memang adalah bagian darimu, pun Aku harus menerimanya juga. Berbahagialah kau, terima kasih untuk kisah dan pelajarannya selama kita bersama di Kampung Inggris Pare.

Aku pun tak akan mencemooh Pare seperti mereka, yang menyebut Pare Jahat. Karena yang jahat itu sebenarnya mereka, mereka yang membuka lembaran cinta, tapi tak berani bertanggung jawab melanjutkannya.

“Kereta tiba pukul be..ra..pa…..”

Nada itu tiba-tiba nyaring terdengar, setelah earphone mbaknya tercabut dari colokannya, membangunkanku dari lamunan. “Persetan kereta ini bakal tiba pukul berapa, mbak!” Jawabku di hati dengan nada kesal. Kesal karena ada yang menganggap ini hanya cinta periode saja.

*Kampung Inggris Bercerita #2 ini dirangkum dari cerita nyata yang dialami oleh salahsatu member di Kampung Inggris, Pare.
*Kami juga menunggu klarifikasi dari sudut pandang cowok tentang kisah cinta di Kampung Inggris Bercerita #2 ini.