Kampung Inggris Bercerita #3

Kata Kita, Makna Kita

KAMPUNG INGGRIS – Hey Kampung Inggris Pare, tahukah engkau? Akhirnya Aku merasakan pagi yang penuh dengan anugerah dan nikmat, saat tangan itu sudah kupegang erat, saat senyum itu sudah boleh untuk kujaga dan kurawat, di saat hati kita sudah saling mengikat kuat. Saat kata sudah dirasa, kisah pun menjadi makna.

Padahal, 4 bulan yang lalu senyum itu hanya bisa kukagumi dari jauh. Tangan halus putih hanya dapat kutatap saat bersapa saja. Ia hanya jadi cita dan anganku saja.

Setiap ada waktu, kusempatkan  untuk mencuri cahaya binar dari matamu yang bulat nan indah itu. Hingga Seringkali kudapati hitam mata itu tiba-tiba menyerap segala kesadaran diriku, dari keramaian suasana kelas. Mungkin ia tak sadar, bahwa di ujung belakang, ada Aku yang terbius senyumnya hingga berasa berada di surga. Barangkali ia juga tak sadar, ada hati yang selalu bergetar, ada jiwa yang mulai tumbuh mekar, ada rasa yang semakin membesar, ada cinta mewujud karenanya.

3 bulan setelahnya kita sering mencuri waktu dari semesta, untuk bertukar cerita, bertukar kata hingga menciptakan tawa, membagi pikiran sambil menyembunyikan perasaan. Aku yang gelap kau beri cahaya, Aku yang gersang kau beri tetesan asa untuk berkembang, hati yang tak punya tempat singgah tiba-tiba kau beri harap tentang gambaran sebuah rumah.

Asa tak boleh sirna, maka kuputuskan untuk segera bertanya perihal rumah yang ada di dalam dirinya. Aku ungkapkan keinginan untuk menjadikan ia sebagai tujuan dari perjalanan – apa yang hati ini rasakan berbulan bulan. Doa yang Aku sepuh berhari-hari dalam hening malam – dari sajak yang Aku sulam melalui sulur-sulur cahaya akhirnya diejawantahkan oleh Tuhan. Ia ijinkan Aku menetap dan berjalan bersama pada akhirnya.

Baca Juga:  Kampung Inggris juga Ikuti Upacara Kemerdekaan di Situs nDalem Pojok

Kita menyatukan jiwa akhirnya, dan kita merasa bahagia, sampai lupa ada waktu yang bergerak membayangi langkahku dan dirimu. Tiba saatnya, sinar purnama ketiga tak bisa kita nikmati dari tempat yang sama, kau pamit untuk pulang ke kotamu, dan Aku berpesan dari desaku, bahwa kita akan saling menguatkan untuk bertemu, lagi.

Sore sebelum surup memanggil, kususuri jalan dengan membonceng kenangan. Di pinggir sebuah lapangan, member-member baru tampak riang, melafalkan kata asing dalam percakapan. Melewati warung ketan, sepeda-sepeda sudah rapi tertata memenuhi pinggiran jalan, terlihat ramai warung dipenuhi candaan. Kulanjutkan mengayuh sepeda perlahan, memotong teriakan pidato remaja-remaja kursusan yang saling berhadapan di kanan-kiri jalan. Setiap yang tampak pada akhirnya menjadi isak, membuat dada semakin sesak, menghadirkan kisah dia dan Aku yang menyisakan luka dan jarak.

Luka itu belum sembuh juga, sejak kuterima pengakuan darimu, sebulan yang lalu. Pembuluh darah seakan dibuat pecah oleh keterombang-ambingan luapan getir jiwa, saat sebuah sebilah kalimat datang menyanyat.

“Iya, Aku sekarang jalan sama mantanku….” Pengakuan yang sebelumnya sudah kutahu dari temannya, akhirnya mengada juga, tanpa ada sedikit pun nada bersalah.

Baca Juga:  Teater TAS Mencoba Merebut Panggung Pare

Kisah indah kita di Kampung Inggris rupanya bagimu hanya pemanis, cerita-cerita penuh makna bagimu hanya candaan saja, engkau yang mengijinkan Aku singgah, rupanya telah kau usir paksa, tanpa menanyakan tangis seperti apa yang Aku rasa setelahnya. Apakah di kotamu Jakarta, kata dan rasa sudah kehilangan maknanya?

Hampir 3 minggu, kuputuskan menepi lagi di kampung ini, meminta kekuatannya, menyembuhkan luka dari kota. Konon Pare katanya punya kisah berasal dari sejarah namanya. Ia panglerenan, sebuah ruang singgah, tempat membuat jeda, jauh dari istilah Pare Jahat. Katanya Pare punya kekuatan, yang kehilangan jalan akan ditemukan, yang luka akan dibuat menerimanya, tangis akan berbuah senyum manis, dan yang kalut tidak akan mudah untuk tersulut. Pikiran dan rasa akan terbuka ketika singgah dalam membuat jeda.

Awan putih berjalan, melintasi langit biru di pandangan. Daun-daun lemah sempoyongan, melambai-lambai tertiup angin di seberang jalan. Tiba-tiba ada kabar yang kau kirim melalui kata di dalam layar.

“Aku sudah putus dengan mantanku” pesan WA bernada pilu. Pare, ijinkan Aku singgah lebih lama, untuk menata kata, merenungkan jawaban untuk pesannya.

*Kampung Inggris Bercerita #3 ini dirangkum dari cerita ghibah teman saya di Kampung Inggris Pare.