Kampung Inggris Bercerita #4

Dua Nama

KAMPUNG INGGRIS – Dalam kelam malam, di pojok Kampung Inggris Pare, di sebuah warung kecil, tersisa sedikit cairan kopi dalam cangkir mungil. Hanya ia yang sedari tadi menemaniku untuk mengolah kenyataan pada apa yang akan terjadi kedepan. Masih kupegang dan kubalik-balikkan selembar kertas tebal seukuran Folio yang sudah terlipat rapi dan terbungkus plastik. Ada dua nama yang tercetak tebal dengan hiasan font embos bewarna emas berkilauan di sampulnya. Di bagian bawahnya masih tersisa spasi kosong untuk nama seseorang dan alamat kemana undangan ini akan tertuju.

3 hari yang lalu, satu kardus undangan itu kita terima dari percetakan. Kita suka dengan desain dan bentuknya, senyum-senyum kecil langsung terbentuk saat kita membaca isi dan kutipannya. Yang mulanya mimpi akhirnya jadi nyata, yang awalnya sebuah rencana akan kita realisasikan juga, perihal kisah cinta yang akan kita bukukan dalam dokumen negara dan agama.

Hari ini tiba-tiba pepatah menunjukkan eksistensinya, “langit tidak selalu cerah sesuai ingin kita”.

Dek.. engkau tadi bercerita, perihal senja, di Kampung Inggris Pare tercinta -tempat semua bermula- namun engkau nikmati dengan perasaan kecewa. Tentu, Aku tahu, siapa yang sedang kau tuju dengan metamorfosa yang kau kirimkan dalam WA storymu itu, tak lain dan tak bukan adalah diriku.

Barangkali, kata maaf, sudah sering Aku berikan untuk dapat meredakan kekecewaan seperti itu, hingga kali ini, Aku pun dibuat malu oleh maaf itu sendiri. Aku yang tak mampu berikan kenyamanan, Aku yang tak mampu menguatkan sebuah kepercayaan.

Baca Juga:  Kampung Inggris Rutin Selenggarakan Diskusi

Dek, 3 bulan sudah kita mengenal, 2 bulan sudah kita mengikat rasa, 1 bulan kita putuskan pilihan untuk menyatukan kehidupan. Dan wajahmu selalu melekat dalam ingat, saat semuanya bermula. Dimana kala itu kita sama-sama bertemu kali pertama untuk mendaftar di salahsatu lembaga kursus bahasa Inggris, di Pare. Terekam jelas, bagaimana tatapan mata kita saling beradu tanpa bias dalam suatu kelas, lalu jiwa kita tiba-tiba masuk dalam hening, kesejukan hadir dalam hati yang dulu mengering.

Kemarin, awan bergelayut, gelap menyerang. Ada yang datang karena tak diundang, ada yang hadir untuk membawa nada getir, padamu. Ia adalah mantan kekasihku, yang merupakan bagian kisah masa lalu, yang sudah aku beri cerita kepadamu. Aku dan dia bertemu bukan untuk membagi rindu, namun mengingatkan posisiku, dia dan kamu dalam lintasan waktu, ia adalah masa lalu, dan engkau adalah masa depanku. Itu saja, tak lebih dari itu.

Namun, jelasnya makna yang kubawa dalam rangkaian kata, ujungnya tak dapat membantumu untuk memahami semuanya. Dunia sudah engkau cerna hanya dari dua rasa saja, amarah menegasikan yang ada, cemburu menghanguskan segalanya, kau habisi Aku dengan asumsimu, cinta hilang entah kemana.

Dek.. dalam keheninganku, dalam kontempelasiku, dalam munajatku, Aku temukan pertanyaan. Adakah kecewa dan marahmu itu terbangun, karena Aku yang memang benar-benar tak mampu bahagiakan dirimu?

Waktu berjalan, lalu kusadari perlahan, bahwa Aku telah memperlakukanmu secara tak adil dalam hubungan kita ini, dek. Seringnya diriku, yang dibuat bahagia olehmu, rupanya tak mampu bertindak sebaliknya, memberikan hal yang sama, tak ayal hanya kekecewaan yang pada akhirnya hadir kepadamu. Rupanya, selama ini Aku yang terlalu banyak menerima darimu dek, perihal sebuah kenyamanan, dan kebahagiaan. Sedang engkau hanya mendapat tawaran-tawaran kenyataan yang tak jarang menjadi sebab kekecewaanmu, cemburumu dan amarahmu.

Baca Juga:  Di Bumi Manusia Iqbal Tak Ubahnya Seperti Saya di Kampung Inggris

Dek.. Jujur, Aku sangat membutuhkanmu untuk memberikanku sebuah pelita, agar jalan menuju rasa damai bisa tercipta. Namun Aku tak sadar, rupanya diri ini terlalu egois, menerima saja, tanpa mampu memberikanmu sebuah percikan cinta, yang bisa buatmu bahagia. Hanya kecewa dan kecewa yang kau terima dalam kisah kasih kita.

Hari bergerak menuju larut malam, begitupun pikiranku yang masuk terlalu dalam. Mengingat kenangan kita yang gagal menuju peraduan. Kecewa yang tak bisa terurai dengan kata, menutup sebuah kisah, menjadikan sumber air mata untuk kita berdua. Kuhormati keputusan darimu di masa lalu, tak ada kecewa, sesal pun juga, yang tertinggal hanyalah makna. Sebuah makna perihal tentang rencana, cinta dan kehendak sang Pencipta.

Setahun sudah gambaran itu selalu kukenang, selalu membayang. Bahkan ia lebih kuat di hari ini, ketika Aku memegang kertas yang berukuran sama, bertuliskan 3 nama. Dua nama yang tercetak embos, diberi warna emas berkilau indah. Dan satu nama yang ditulis dengan tulisan tangan dalam sebuah kotak putih, di bagian bawah sampul undangan.

Kepada Yth:
Bapak/Ibu/Saudara/sdri:
*** (namaku)
Di Kampung Inggris, Pare,
Kediri.

*Kampung Inggris Bercerita #4 ini direkonstruksi ulang dari curhatan teman di Kampung Inggris Pare.