Kampung-Inggris-Bercerita-5

Kampung Inggris Bercerita #5

Kejadian Semalam

KAMPUNG INGGRIS – Belum genap aku merasakan seruputan kopi yang baru saja diantar ke mejaku, sebuah pesan WA datang darimu, menyala dan menyapa di notifikasi layar smartphoneku. Aku sudah memprediksi, bahwa ini akan terjadi, perihal kekhawatirannya, risaunya dia, tentang buntut dari kejadian semalam.

“Apa yang terjadi semalam mas?”
“Apa yang kamu lakukan tadi malam mas?”
“Ada apa mas?”
“Jujur mas, balas mas?”

——-

Adzan Azhar baru saja selesai berkumandang, akupun segera bersembahyang. Sejak dari tadi kupersiapkan diriku — dari 30 menit yang lalu — untuk bersujud dan bersimpuh, untuk menghilangkan ragu, menguatkan tekadku, menyepuh niatku yang sejak dulu ingin aku tuju. Satu langkah mewujudkan masa depan hadir dalam satu kesempatan. Hidup bersama dengan perempuan yang aku cinta dalam ikatan sah.

Selesai kurapal segala macam bacaan ijazah dan doa, aku langsung berganti pakaian yang sudah aku pilih dengan seksama, setelan yang kuanggap pantas untuk sebuah pertemuan penting. Aku ingin terlihat meyakinkan, terlihat gagah dan tampan, citra pria yang punya segudang kebahagiaan sudah benar-benar aku tata dan siapkan. Aku sangat yakin, pertemuan nanti malam pun akan berjalan sempurna.

Motor yang sudah genap dua bulan lunas cicilannya, kupacu dengan kecepatan normal. Segalanya sudah kuperhitungkan dengan matang, termasuk waktu tempuhnya, bahwa dari Kampung Inggris Pare menuju ke rumahnya, dengan  ditambah estimasi sholat Magrib juga, sekitar pukul 18:30 aku sudah sampai di sana. Bacaan Bismillah pun menjadi langkah awal untuk tugas menjemput asa.

Rupanya semesta dan purnama mendukungku. Sinar cahaya malam itu  saksi bahwa aku sampai di halaman rumahnya tepat sesuai prediksiku semula. Sofa berbentuk letter L, dan satu meja pasangannya, beserta lemari kayu jati asli yang penuh dengan tatanan buku dan piala, mengisi ruang yang bercat putih bersih berukuran 10×5 meter. Foto-foto Ulama-ulama Nusantara terpajang rapi di dinding, aku mengenali beberapa diantaranya. Sedang foto orang yang selalu aku idamkan dan aku puja sedari dulu mengenakan baju wisuda tergantung paling besar, dengan bingkai ukiran kayu bewarna natural. Senyumnya di foto itu, menyapaku terlebih dahulu.

Baca Juga:  Perlombaan 17 Agustus di Kampung Inggris

Meja yang semula hanya terisi jajanan roti, pada akhirnya menemukan teman minum, secangkir kopi dan teh panas ada diantara kita. Seseorang sudah duduk di hadapanku mengenakan setelan putih bersih, wajahnya bercahaya dan berkarisma. Dan tiba-tiba aku kehilangan diriku saat itu juga.

Pikiranku malah tertuju pada kekasihku, mengenang awal pertemuanku dengannya. Sejarah kita menjalin kisah di Kampung Inggris, Pare hadir dalam pikiran.

Saat itu Kami datang ke Kampung Inggris untuk pertama kalinya dengan kondisi terbilang sama, tidak mengerti sama sekali perihal bahasa Inggris. Kami pun pada akhirnya dijadikan dalam satu kelas. Waktu terus berjalan, sulur-sulur rasa merambat perlahan, dan 4 bulan kemudian, rasa itu akhirnya kita nyatakan untuk menjadi sebuah ikatan.

3 tahun sudah kita rayakan kebahagian, kita maknai kebersamaan, kita pikirkan masa depan. Sebuah gambaran kehidupan yang penuh senyuman, pelukan, cinta dan canda tawa dalam atap yang sama. Engkau selalu menceritakan asa itu dengan binar-binar mata yang penuh harapan, sama dengan awal mula engkau rengkuh cintaku. Aku tahu, ia lemah untuk menyembunyikan ekspresi suka cita, tapi hal itulah yang justru buatku suka dengan dia, jujur dan ekspresif perihal rasa.

“Jadi Gimana Mas?” sebuah harapan, sebuah masa depan, dan kekhawatiran tiba-tiba ditekankan dalam nada pertanyaan itu. Aku kembali tersadarkan, namun masih diam. Kekuatan doa dan cinta rupanya tak mampu menolongku untuk menggerakkan bibir untuk berkata, mengeluarkan sedikit suara, untuk menjelaskan perihal keinginan, perihal ungkapan perasaan. Tapi, malam itu aku benar-benar mengecewakan. Aku layu diterpa angin ketidakpercayaan diriku, aku menunduk sedari tadi bukan sebagai padi, tapi sebagai burung yang sudah terkena impotensi, kehilangan kejantanan, memalukan dan mengecewakan.

Baca Juga:  Kampung Inggris Bercerita #3

——–

Pertemuan semalam rupanya terhitung tidak sampai satu jam. Kuselamatkan diriku dengan buru-buru ijin pamit. Di perjalanan menuju Kampung Inggris, ku kutuk diriku sendiri, sumpah serapah tercecer hampir sepanjang jalan, menyumpahi kebodahanku. Kata-kata yang sudah aku siapkan berbulan-bulan lamanya, hancur sudah, harapan yang aku jaga di puluhan purnama, akhirnya aku juga yang menikamnya. Aku kecewa dengan nyaliku.

Dan Pagi ini tak sepenuhnya cerah, sama dengan yang ada di pikiran dan jiwa, yang masih dipenuhi kabut-kabut pekat sisa gelap. Dari semalam mata pun belum terpejam, masih kelam. Sedang aku tak boleh terus-terusan diam, dia pasti risau menunggu kabar semalam. Kunyalakan rokokku, kuhisap dalam-dalam, lalu kuhempaskan sisa-sisa ketakutanku bersama asap ke udara. Barulah, kuputuskan untuk membalas WA-nya,

“Maaf, tadi malam aku tak sanggup menghadapi Bapakmu.”
“Aku tak punya nyali untuk mengungkapkan rencana kita, aku tak berani mengungkapkan keinginan melamarmu.”
“Maaf ya mengecewakanmu, dek.”
“Berilah aku kesempatan kedua, ya dek.”

Kutunggu balasan darimu, kubayangkan kekecewaanmu, kusiapkan diriku untuk segala cemoohmu.

Ternyata, tidak seperti yang kuduga juga, kau balas kenyataan pahit, dengan sesuatu yang diluar dugaan dan nalarku.

“ 😂😂😂😂 ”
“You are not the only one.”

Membaca balasmu, Aku terdiam, Aku bingung, antara lega atau malu.

*Kampung Inggris Bercerita #5 ini diambil dari cerita salahsatu tutor lembaga kurus ternama di Kampung Inggris Pare.