Kampung Inggris Sudah Punya Patriot

Kampung Inggris Sudah Punya Patriot

KAMPUNG INGGRIS – Menjadi orang besar, tidak harus lahir dari rahim orang besar. Bapak Kalend Osen adalah bukti nyata dari ungkapan di atas. Ia lahir 20 Februari 1945, berasal dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bapak Kalend Osen memiliki latar belakang dari keluarga yang sederhana, namun sejak usia muda, ia tergolong memiliki kemauan menuntut ilmu yang tinggi.

Di kala waktu muda, bapak Kalend sempat bekerja sebagai buruh seperti kebanyakan pemuda di desanya. Ia juga pernah bergabung sebagai karyawan di salah satu perusahaan milik orang Malaysia yang bernama DBTC (Daya Besar Timber Cooperation).

Pada akhirnya, cita-cita besar menggerakkan ia untuk hijrah ke pulau Jawa di tahun 1973. Berbekal uang sebesar Rp18.000,00, ia bertekad untuk merealisasikan mimpinya. Ia memilih Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor — yang terletak di Ponogoro, Jawa Timur — sebagai pijakan batu pertamanya. Selisih usia yang jauh dengan teman seangkatannya, membuat ia sulit beradaptasi awalnya. Namun pepatah yang mengatakan bahwa tak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu, membuat bapak Kalend tetap melanjutkan niat awal.

Waktu berjalan, dan ia menemui halangan-keadaan ekonomi memaksa bapak Kalend untuk menghentikan pendidikan di Gontor sampai kelas 5. Ia mencari peluang, tak terlalu dipikirkannya pintu yang tertutup, terus dicarinya informasi pintu-pintu yang terbuka baginya. Sampailah kemudian info bahwa di Pare, ada seorang kyai yang menguasai 9 bahasa. Kyai itu bernama KH. Ahmad Yazid, pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah yang terletak di desa Tulungrejo, kec. Pare, Kediri. Bapak Kalend Tak bepikir panjang, diputuskannya untuk segera datang ke Pare, <em>nyantri</em> kepada Kyai Yazid.

Kedatangan bapak Kalend ke Pare, rupanya akan menjadi tonggak sejarah besar, baik untuk daerah Pare maupun bagi bapak Kalend sendiri. Semua bermula ketika datangnya dua mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang menjadi <a href=”https://w3.uinsby.ac.id/” target=”_blank” rel=”noreferrer noopener” aria-label=”UIN Sunan Ampel Surabaya (opens in a new tab)”>UIN Sunan Ampel Surabaya</a>) untuk belajar bahasa Inggris. Mereka awalnya berniat belajar bahasa Inggris kepada Kyai Yazid sebagai persiapan ujian negara. Kebetulan waktu itu Kyai Yazid tidak ada di tempat, beliau sedang berada di rumah mertua, di Majalengka, dan akan kembali sebulan lagi. Bu Nyai akhirnya menyarankan agar kedua mahasiswa tersebut untuk belajar ke bapak Kalend.

Baca Juga:  Repost, Malas Baca dan Kampung Inggris di Instagram

Kolabarasi antara guru yang tulus mendidik, dengan kecerdasan kedua mahasiswa, tak pelak menghasilkan <em>output</em> yang memuaskan. Proses pembelajaran selama 5 hari, mampu membuat kedua mahasiswa tersebut mengerjakan soal-soal, dan melampaui ujian dengan kelulusan.

Akhirnya, kabar inspiratif perihal keberhasilan pengajaran oleh bapak Kalend langsung tersebar dari mulut ke mulut. Tiba-tiba pondok Darul Falah menjadi ramai oleh&nbsp;pendatang, oleh mereka yang datang untuk belajar bahasa Inggris.

Karena banyaknya peminat yang datang untuk kursus bahasa Inggris, pada tanggal 15 Juni 1977 bapak Kalend akhirnya mendirikan BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare Kediri, hal ini direalisasikan atas saran dari beberapa muridnya. BEC, adalah lembaga kursusan pioner dari ratusan tempat kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris hari ini.

**

Patriot, jika diartikan secara letterlek, ia dapat berarti pecinta/pembela tanah air. Mencintai atau membela tanah air tidak harus dimaknai sempit, seperti mengangkat senjata melawan penjajah saja, karena Patriot memiliki makna lebih dari itu. Ia bisa jadi seorang pioner pendidikan bagi kaum perempuan layaknya Kartini, ia bisa jadi seorang dokter yang dengan tulus membantu pasiennya tanpa mengharapkan imbalan seperti dokter Aznan Lelo. Seorang yang mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk warga sekitar, mengangkat tingkat perekonomiannya, memberikan pendidikan yang tergolong murah, seperti apa yang dilakukan bapak Kalend Osen, adalah bagian dari orang yang memiliki jiwa Patriot.

Perkembangan kursusan bahasa Inggris yang ada di Kampung Inggris hari ini, diakui atau tidak adalah hasil dari rintisan bapak Kalend Osen. Kebanyakan pemilik kursusan atau pun tutor yang ada di Kampung Inggris Pare adalah anak didik bapak Kalend. Ia bersedia memberikan pendidikan secara cuma-cuma untuk warga kampung sekitar yang berminat untuk kursus bahasa Inggris.

Baca Juga:  Kampung Inggris Rutin Selenggarakan Diskusi

Dengan nama besar dirinya dan BEC, ia bisa saja, bahkan mampu untuk memonopoli kursusan yang ada di Kampung Inggris, tapi ia tak melakukannya. Bapak Kalend memilih untuk berbagi dengan murid dan warga, agar mereka besar bersama. Bapak Kalend lebih memilih menjadi pengayom, penasehat, sebagai Bapak, bagi mereka, para pemilik kursusan yang ada di Kampung Inggris Pare.

Banyaknya para pendatang ke Kampung Inggris, secara otomatis telah menggerakkan roda perekonomian warga sekitar. Persewaan kos-kosan, persewaan sepeda, usaha-usaha warung pun semakin banyak, membuat tingkat ekonomi warga pun sedikit banyak ikut terangkat. Kesejahteraan pun mulai warga rasakan. Disini, lagi-lagi Bapak Kalend memberikan sesuatu yang berharga bagi bangsa, memberdayakan warga dan memberikan jalan pemenuhan hajat hidup bagi orang banyak selain pendidikan bahasa yang dikuasainya.

Banyaknya penghargaan Nasional yang diterima oleh bapak Kalend Osen atas dedikasinya, tak lantas membuat ia jumawa. Jasa yang telah diberikannya untuk Kampung Inggris, tak membuat bapak Kalend lantas semena-mena, ia tetap rendah hati, membumi, malah menjadi pribadi yang semakin bijak. Ia tetap sederhana, tidak berubah. Ia masih sama dengan bapak Kalend yang kita kenal di awal.

Barangkali, Ia mungkin juga menolak dengan rendah hati, apabila kita sematkan bapak Kalend sebagai Patriot. Namun, apa yang telah dilakukannya, sudah lebih dari cukup bagi kita, untuk memasukkannya sebagai contoh patriot sesungguhnya. Jasa-jasa yang sudah diberikannya untuk Kampung Inggris Pare khususnya, dan Indonesia secara umum, tak lantas membuat ia gila kuasa, nama besar yang melekat, tak membuatnya gila hormat, ia tetap mampu menjaga amanat, sebagai bapak Kampung Inggris. Oleh karenanya, warga Kampung Inggris seyogyanya patut bersyukur. Di saat daerah lain kebingungan mencari patriot, Kampung Inggris sudah memilikinya. Sedari dulu.