Ketika-Kampung-Inggris-Masuk-Google

Ketika Kampung Inggris Masuk Google

KAMPUNG INGGRIS – Internet telah menjelma sebagai sebuah kebutuhan. Dan terus berkembang tanpa henti dalam kehidupan manusia saat ini, terlebih lagi bagi generasi milenial. Internet menawarkan fasilitas untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi secara mudah. Hanya membutuhkan lentikan jemari dan kata kunci dari informasi yang dicari, lalu diketik lewat Google, abracadabra, semuanya muncul dengan segera.

Begitu juga dengan yang terjadi jika mencari kata kunci Kampung Inggris di internet. Layaknya busur panah, dengan cepat puluhan warta langsung tersaji di halaman pertama. Apakah dari semua warta tersebut benar-benar memberikan informasi yang akurat tentang Kampung Inggris? Bisa ya, bisa juga sebaliknya. Sulit untuk langsung menjawab pertanyaan semacam ini karena ke-akuratan-an itu, menurut saya, memiliki makna yang sama dengan sebuah kebenaran. Kalau pun harus dijawab, maka mestinya diurai dari awal agar bisa mengarah pada kesimpulan yang logis dan menjadi renungan bersama.

Saya akan mengambil sudut pandang dengan menafsirkan bahwa Google sebagai mesin pencari nomer satu di Internet. Dan juga memiliki andil besar menyampaikan informasi tentang Kampung Inggris melalui media website. Akan tetapi, sesungguhnya Google adalah alat penyedia jasa informasi yang tidak benar-benar gratis. Algoritma Google memang dipengaruhi oleh kualitas isi informasi pada sebuah halaman online. Selain itu munculnya beberapa barisan Iklan di dalam kolom hasil pencarian. Hal tersebut turut memberikan pilihan kepada pembaca untuk memilih informasi mana yang bisa diterima secara langsung. Artinya; Google juga memberikan kesempatan semua orang untuk berpartisipasi mengatur informasi melalui slot iklan yang ditawarkan.

Padahal, memasang iklan di Google tidak bisa dikatakan murah karena dari semua menu yang disuguhkan memiliki jangkauan segmentasi berbeda-beda berdasarkan anggaran yang dibayarkan. Semakin banyak biaya yang dikeluarkan untuk beriklan, semakin luas pula jangkauan yang bisa diraih. Sungguh ironic memang, apalagi jaman sekarang publik lebih banyak mencari tahu tentang Kampung Inggris melalui Google, namun coba buktikan sendiri, kolom iklan selalu muncul mengikuti informasi yang berkaitan. Kalau sudah ada iklan, berarti ada sesuatu yang ditawarkan bahkan dijual. Lalu apa yang dijual di Kampung Inggris? banyak sekali, tapi yang utama tentu saja jasa pendidikan.

Ada lebih dari 160 lembaga kursus di Kampung Inggris, selain mengemban tujuan mulia pendidikan tentunya, mereka ini termasuk ke dalam jenis bidang usaha yang menjadi mata pencaharian banyak orang. Tidak bisa dipungkiri juga jika diantara kumpulan lembaga kursus tersebut, satu sama lain juga saling berkompetisi mendapatkan income dari siswa yang ingin belajar di Kampung Inggris. Sebagian dari Lembaga Kursus yang ada di  Kampung Inggris mengikuti cara berpromosi di Google untuk menarik banyak siswa, sedangkan sebagian yang lain pastinya sudah memiliki cara-cara lain untuk mengenalkan program pendidikan kursus bahasa inggris mereka. Berlomba-lomba meningkatkan kualitas pembelajaran di Kampung Inggris sekaligus menarik sebanyak-banyaknya siswa yang ingin datang belajar di tempat mereka.

Baca Juga:  Anggur Merah Bisa Bikin Lancar Ngomong Inggris?

Tidak ada yang menyangka bahwa puluhan tahun yang lalu, sebuah desa kecil di wilayah Kabupaten Kediri yang awal mulanya terkenal dengan sebutan Pare, sebuah tempat belajar bahasa Inggris bernuansa pedesaan dan kesederhanaan, saat ini lebih populer dengan sebutan Kampung Inggris telah sukses mencuri perhatian masyarakat dengan banyaknya alumni yang benar-benar terbukti meningkatkan kemampuan mereka berbahasa Inggris. Ditambah lagi dengan begitu gencarnya promosi Kampung Inggris yang dilakukan di Google, semakin banyak pula orang mengenal istilah Kampung Inggris.

Lantas bagaimana publik bisa mendapat informasi yang benar-benar akurat tentang Kampung Inggris? Sedangkan pengguna Internet dengan sendirinya tergiring kepada pilihan informasi dari yang paling cepat menghampiri mereka? Itu semua memang soal teknis distribusi informasi dan seperti sebuah pepatah yang cocok dengan konsekuensi kemajuan teknologi bahwasanya siapa yang paling kuat menguasai informasi, dialah yang bisa menguasai dunia. Misalnya, ada sebuah Lembaga Kursus Kampung Inggris yang dengan cepat menyampaikan informasi tentang Kampung Inggris, bisa jadi dialah yang dianggap paling bisa mewakili.

Merespon hal ini, seorang kawan pernah menyampaikan kepada saya bahwa ibarat belantara, dunia internet masih merupakan rimba yang terbentang luas. Perlu energi ekstra dan tenaga yang lebih untuk memetakan wilayah yang masih terbentang luas ini karena banyak sekali urusan teknis berkaitan dengan perkembangan teknologi dan kebijakan hukum yang perlu dipertimbangkan. Jangan sampai setiap keinginan bahkan tindakan yang niat awalnya menertibkan justru menjadi pertaruhan bagi Kampung Inggris sendiri karena dengan semangat mencerdaskan bangsa yang menjadi roh-nya, Kampung Inggris merupakan aset Indonesia sebagaimana semua orang bisa memilikinya.

Baca Juga:  Kampung Inggris Sudah Punya Patriot

Ada sisi etika serta tanggung jawab moral yang dipikul bagi pihak-pihak yang secara berani mengatasnamakan Kampung Inggris. Ibarat sebuah pepatah nila setitik, rusak susu sebelanga: hanya karena kesalahan kecil yang nampak tiada artinya seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan. Mengandalkan kesadaran untuk bersama-sama ‘menjaga’ Kampung Inggris memang ironic mengingat begitu pentingnya peran Kampung Inggris bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang. Kiranya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan yang bisa memfasilitasi Kampung Inggris demi kepentingan bersama.

Seolah-olah menemui jalan buntu untuk menjawab pertanyaan di awal tadi, saya teringat kata Thomas L Friedman, dalam bukunya yang sangat terkenal The World is Flat: When the world goes flat, and you are feeling flattened, reach for shovel and dig inside yourself. Don’t try to build walls. Sebuah pesan yang bijak dalam menyikapi arus informasi dan teknologi yang semakin berkembang dengan melihatnya sebagai sebuah peluang sekaligus tantangan dalam memperluas jaringan informasi dan meningkatkan kapabilitas diri. Beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus mengedukasi publik untuk lebih mengenal Kampung Inggris secara objective serta transparent.

Cukup cliché bukan? setidaknya sementara itu dulu yang bisa dilakukan sebelum ada gerakan bersama dari para stakeholder Kampung Inggris Pare untuk menentukan masa depan Kampung Inggris, entah bagaimanapun itu caranya, yang terpenting dan yang harus dipahami dari awal bahwasanya Kampung Inggris adalah aset penting milik Indonesia.

Menutup celotehan ini saya hanya bisa membayangkan, mungkin sang pendiri Kampung Inggris, Mr. Kalend Osen, tidak pernah menyangka bahwasanya karya yang dimulai lebih dari 40 tahun lalu berubah menjadi sebegitu massive-nya. Berjuta-juta hormat dan terima kasih saya tujukan kepada beliau, walau tak pernah belajar secara langsung, tapi amal jariyah beliau terlanjur merasuk dalam nadi. Bagi saya, Kampung Inggris bukan hanya sebuah entitas yang merepresentasikan sebuah ruang belajar yang berdomisili di Kabupaten Kediri, namun juga sebuah semangat untuk membangun negeri melalui pengabdian pada dunia pendidikan serta sebuah pesan mulia memenuhi kewajiban kemanusiaan yaitu mencerdaskan bangsa.