Livi-Zheng-Post-Truth-dan-Kampung-Inggris

Livi Zheng, Post-Truth, dan Kampung Inggris

KAMPUNG INGGRIS – Beberapa pekan ini, dunia maya masih ramai membahas sosok anak muda yang bernama Livi Zheng. Livi memproklamirkan diri sebagai sutradara tanah air yang sukses. Klaim itu didasari atas parameter yang ia buat sendiri: filmnya masuk hollywood, ia lolos seleksi administrasi Oscar, Filmnya diputar di studio Walt Disney, ia lulusan S2 dari sekolah film terkenal di Hollywood, filmya sudah direview oleh media internasional, dan banyak lagi.

Padahal, menurut penelusuran Tirto.id, banyak hal yang disampaikan Livi Zheng mengandung informasi sesat. Klaim-klaim yang dinyatakan Livi Zheng tidak sepenuhnya akurat, ia pandai melakukan framing informasi demi citra. Sayang, media yang kita harapkan mampu untuk menjadi filter informasi, ikut silau dengan aksesoris Livi Zheng, jurnalis tidak melakukan verifikasi ulang. Booom….., Livi Zheng pun populer, diberi lampu sorot panggung berlebihan, ia diberikan karpet merah di media, panggung pemerintah, dan kampus- dianggap ahlinya ahli.

Team Livi Zheng sepertinya mengetahui betul karakteristik audiens zaman ini. Citra adalah segalanya, kemasan diolah sedemikian menterengnya, hingga membuat kita silau tanpa mampu mengoreksi ulang. Pencitraan dianggap penting untuk mendongkrak popularitas, dan kepopuleran adalah kunci untuk menciptakan peluang, sedang peluang dapat membuka jalan untuk mendatangkan uang lebih mudah dan cepat.

Barangkali pengamatan pendek saya memandang bahwa panggung-panggung pertunjukan, baik hiburan, intelektual, keagamaan, lebih banyak diisi oleh mereka yang populer daripada yang ahli. Citra, hari ini dengan mudah mengalahkan kepakaran. Sederhananya, kemasan dulu baru isi. Saya ucapkan, selamat datang di era post-truth.

Post-truth, kamus Oxford sendiri mendefinisikan istilah ini sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Informasi-informasi yang berbasis data dan fakta dinegasikan, sedang keyakinan yang tak memiliki dasar dijadikan pegangan. Hari ini kita sering mendengar istilah Hoax, ia adalah anak yang dihasilkan dari kondisi post-truth.

Baca Juga:  Anggur Merah Bisa Bikin Lancar Ngomong Inggris?

**


Money attracts success,
Success attracts money.

Fenomena matinya kepakaran ini hampir terjadi di setiap lini, tak terkecuali di dunia pendidikan. Fenomena yang terjadi di Kampung Inggris Pare adalah salah satu sample yang memperkuat asumsi saya diatas.

Bagi mereka yang sudah lama tinggal di Kampung Inggris Pare, tentu sudah jamak mengetahui permainan citra seperti ini. Pemilik lembaga kursus di Kampung Inggris Pare yang punya modal kapital lebih, akan lebih fokus pada kemasan dulu daripada isi. Puluhan bahkan ratusan juta digelontorkan untuk memoles citra lembaga kurus mereka, dari beriklan di Google, Social Media, dan endorse beberapa tokoh. Tapi sayang, hal itu berbanding terbalik dengan kwalitas pengajaran mereka. Diktum pemilik lembaga kursus di Kampung Inggris ini simple saja, “Terkenal dulu baru isi”.

Dalam dunia pemasaran tentu itu merupakan suatu hal yang wajar, dan  diperbolehkan. Akan tetapi, yang jadi masalah atau kegelisahan bagi para pemerhati, adalah tanggung jawab moral mereka akan pendidikan. Karena tidak jarang kita dapati, banyak yang merasa kecewa, setelah mengetahui kwalitas dari lembaga kursus tersebut, mirip dengan kecewanya para mereka yang ‘tertipu’ pemberitaan Livi Zheng.

Berdasar informasi dari obrolan di warung-warung kopi, diketahui bahwa para pendatang pemula di Kampung Inggris Pare, rata-rata mengetahui informasi awal mengenai Kampung Inggris ini dari SEO, atau medsos. Mereka tidak melakukan komparasi dan checking informasi atau mencari data pembanding. Apa yang populer di dunia maya, dianggap mereka sebagai parameter ahli. Padahal, di Kampung Inggris Pare sendiri, jumlah lembaga kursus yang dapat dideteksi kurang lebih berjumlah 160 lembaga kursus bahasa. Dan dari kesekian itu, hanya beberapa yang benar-benar dapat dikatakan ahli atau dapat diuji outputnya. Sayang sebenarnya, para lembaga kursus ini kurang populer, dikarenakan tak punya modal lebih untuk memoles citra dan untuk unjuk gigi di panggung dunia maya.

Baca Juga:  Kampung Inggris Sudah Punya Patriot

Lembaga-lembaga kursus yang teruji dan kredibel ini, seringkali jarang masuk dalam radar mereka-yang ingin mengakses informasi kampung Inggris pertama kali melalui internet. Informasi mereka tenggelam ditelan iklan-iklan pemilik lembaga kursus raksasa, yang memiliki modal kapital lebih.

Disisi lain, secara kemasan atau tampilan, kebanyakan memang lembaga kursus di Kampung Inggris ini kurang menyakinkan. Patut disadari, karena untuk membuat kemasan yang wah… Mereka biasanya terkendala di modal. Pada akhirnya mereka hanya berfokus pada mempertahankan atau bahkan peningkatan kualitasnya.

Oleh karenanya, barangkali kita tidak perlu terlalu silau akan kepopuleran dan kemasan yang ada. Perlu sikap kritis untuk melakukan verifikasi ulang informasi yang ada. Cari data sebanyak-banyaknya sebelum mengambil keputusan, bertanyalah sebelum benar-benar tersesat. Sangat disayangkan jika kita kecewa akan ekspektasi yang sebelumnya kita bawa, karena waktu yang terbuang sia-sia, belum lagi biaya karena kesalahan akan ketidaktahuan dalam memilih lembaga kursus.

Lebih baik bertanya, daripada sesat memilih kursusan (di Kampung Inggris Pare).