Pare Kampung Inggris dan Panglerenann

Pare, Kampung Inggris dan Panglerenan

KAMPUNG INGGRIS – Pare (sekarang lebih dikenal dengan Kampung Inggris), saya mendengarnya pertama kali di tahun 2003, itu di saat Bapak menawari saya untuk melanjutkan pendidikan non formal, menambal kemampuan bahasa Inggris saya yang masih jauh dari kata mampu, bahkan bisa dikatakan Nul Putul (istilah bahasa Jawa untuk kata ganti keadaan yang sangat bodoh).

Pare (Kampung Inggris), kata Bapak, kemungkinan besar dapat membantuku untuk menjauh dari istilah tersebut. Untuk menguji petuah Bapak tersebut, pada akhirnya saya memutuskan untuk berkendara 1,5 jam dari Mojokerto menuju ke sebuah kecamatan kecil di Kediri yang bernama Pare. Saya pun mengambil kursus di BEC selama 6 bulan, dan tercatat sebagai bagian dari TC 82.

Dua tahun berselang, saya mendengar dunia pendidikan di beberapa kota besar nyaring membicarakan sebuah tempat yang bernama Kampung Inggris. Usut punya usut, rupanya itu adalah julukan baru bagi tempat kursusan bahasa Inggris di Pare. Bagi saya, pemilihan diksi Kampung pada nama baru Kampung Inggris ini menarik. Saya menduga, ia kurang lebih memiliki makna yang selaras dengan pandangan umum, kampung adalah antitesis dari kota. Jika kota identik dengan kebisingan, kampung lebih terasa tenang, jika kota adalah simbol dari kemodernitasan, kampung lebih dikenal dengan tradisionalitasnya. Kampung sering kali dijadikan sebagai tempat/ruang untuk menepi, karena ia adalah suaka dari hingar bingar kesibukan, dari ramainya teriakan profesionalitas perkotaan.

Pare sebagai Kampung, Pare sebagai tempat membuat jeda.

Sering kali saya mendengar cerita warung kopi, bahwa kata Pare (Kampung Inggris) itu sendiri berasal dari kata panglerenan, sebuah tempat leren (singgah sementara), sebuah terminal kehidupan, sebuah ruang membuat jeda sebelum melanjutkan perjalanan. Sebagai panglerenan, Pare (Kampung Inggris) memang punya modal untuk itu, ia kampung yang benar-benar menenangkan, cuacanya terbilang sejuk, makanannya cenderung murah (bisa ngutang pula), pun ia masih memiliki cita rasa lokal yang cukup enak, representasi kesantunan sebagian masyarakatnya juga masih menonjol, khas masyarakat kampung.

Baca Juga:  Ternyata Kampung Inggris Tidak Buka Cabang, Ini Alasannya!

Daya magnet tersebut, bagi saya, sudah cukup untuk menjadikan Pare, sebagai tujuan tempat persinggahan sementara, bagi beberapa homo sapiens yang ingin menepi, ketika mengalami cobaan berat dalam kehidupannya. Paling tidak ini sudah terbukti, ketika beberapa teman saya memilih berkunjung kembali ke Pare Kampung Inggris, dengan tujuan untuk menjaga jarak dengan dunianya, dunia yang telah menghancurkan mental mereka sebelumnya. Kampung ini dipilih, karena mereka menganggap bahwa Pare Kampung Inggris mampu memberinya ketenangan, mampu menghadirkan sebuah suasana magis yang memang mereka butuhkan.

kata Pare itu sendiri berasal dari kata panglerenan, sebuah tempat leren (singgah sementara), sebuah terminal kehidupan, sebuah ruang membuat jeda sebelum melanjutkan perjalanan.

Seorang profesionalitas muda, yang sudah malang melintang di dunia EO (Event Organizer) kelas kakap itu akhirnya jatuh, jiwanya rapuh, asanya mati rasa. Ia teman saya, tak punya semangat hidup sama sekali, akhirnya ia menepi di sini, Kampung Inggris Pare. Tidak sampai sebulan ia leren, hidupnya mulai terlihat bergairah, kepercayaan dirinya perlahan muncul ke permukaan, perlahan tapi pasti, ia mulai dapat menikmati sesajian nasi pecel dan kopi, Ia kembali sumringah. Finally he said, “What a wonderfull place!”

Seorang DOP (Director of  Photography) yang namanya sudah cukup terkenal di dunia hiburan Jakarta, status sosialnya pun tergolong papan atas, tiba-tiba mendapati hatinya hancur lebur, dikecewakan perempuan yang dicintainya. Ia datang ke Kampung Inggris Pare (lagi), dengan membawa muka kecut, dan segudang cerita nestapa tentang percintaannya. Hidup, baginya seolah tidak ada lagi memiliki sisi nikmatnya. Seminggu kemudian, setelah dia ngopa-ngopi di Kampung Inggris, tawanya kembali mengudara, jantungnya mulai hidup dan berirama, dan matanya sudah mulai jelalatan seperti semula. Rupanya, Kampung Inggris Pare mampu membuat ia lupa akan luka, wanita, dan tangisnya. Finally, he said, “What a fucking place man!!!”

Masih banyak jika ingin diceritakan selama semalam suntuk tentang sihir Kampung Inggris Pare. Mahasiswa yang kebingungan judul skripsi, jejaka yang kebingungan dan putus asa mencari jodohnya, remaja-remaja yang mengalami keretakan hubungan dengan keluarganya, sarjana-sarjana yang buntu akan visi masa depannya, kebanyakan dari mereka kembali lagi ke sini, ke kampung inggris, untuk leren, membuat jeda, singgah sementara, membuat ruang panglerenan di kehidupan.

Kampung Inggris Pare rupanya bukan hanya sekedar tempat kursus bahasa Inggris, kekuatan kampung ini lebih daripada itu, ia bisa jadi panglerenan kala kita kebingungan menentukan gerak tujuan.

Kampung Inggris Pare rupanya bukan hanya sekedar tempat kursus bahasa Inggris, kekuatan kampung ini lebih daripada itu, ia bisa jadi panglerenan kala kita kebingungan menentukan gerak tujuan. Kampung ini mampu menawarkan ketenangan untuk berefleksi, berkontemplasi, memaknai hidup dan membentuk diri. Kampung Inggris Pare akan selalu awe-awe (melambai) pada kita, tentang kesejukannya, tentang kenangan singkatnya.

Baca Juga:  Tugu Garuda Kampung Inggris, Riwayatmu Kini

Tapi Pare, juga bisa jadi jebakan, ia adalah zona nyaman, ia hanyalah tempat membuat jeda, ia ruang sementara, ia adalah terminal transit yang mengisyaratkan kita untuk terus melanjutkan semua perjalanan, ketika kita sudah menemukan kembali tujuan. Ini selaras dengan istilah yang tak asing di Kampung Inggris Pare: “Pare, yen ditinggal awe-awe, yen kesuwen nang kene isok dadi kere” (Pare jika ditinggal akan melambai/memanggil kita untuk kembali, tetapi jika terlalu lama di sini tanpa tujuan pasti, ia bisa membuat kita jadi miskin).

Dan sekarang, Kampung Inggris Pare sedang melambai padamu.. 😊