Pare Masih Sama, Yang Jahat Itu Yang Memanfaatkannya

KAMPUNG INGGRIS – Pagi itu terasa panas, bagi tiga remaja yang berada di salah satu sudut Kampung Inggris. Romansa drama memperebutkan cinta sampai pada endingnya. Ada pemuda yang marah, berdiri, sambil bertanya kepada perempuan yang dicintainya. Sang perempuan diam, mendengarkan, sampai ia bulat memutuskan, memilih yang diam, yang duduk di sebelahnya. Tetapi yang sedari awal berkata-kata itu tak menerimanya, perkelahian pun akhirnya sampai pada yang maya. Yang semenit menjadikan netijen genit, video itu akhirnya viral dengan tagar #parejahat.

Hembusan angin malam minggu, rupanya juga tak mampu mencegah amarah yang sampai pada klimaksnya. Perempuan muda tiba-tiba meringsak sesamanya. Teriakannya pecah sejadi-jadinya, memenuhi isi ruangan di salahsatu kafe di Kampung Inggris. Kisah asmara lagi-lagi jadi penyebabnya. Netijen tertawa mendapat bahan baku baru untuk bullyannya. Yang 30 detik akhirnya menyebar juga dengan tagar #parejahat.

Sejahat itukah Pare? Tentu saja, saya akan menjawabnya tidak. Kampung Inggris Pare tetaplah Pare, ia netral, tak melekat padanya sifat-sifat maupun moralitas. Kita lah yang memberi makna padanya, kita yang berdiam, yang hidup di dalamnya, yang mencari pengetahuan, yang mencari pendapatan.

Nama adalah citra, sekaligus doa.

Pada mulanya, tagar Pare Jahat yang dipakai oleh kedua peristiwa itu hanyalah gimmick belaka. Istilah itu disematkan oleh pengunggahnya hanya untuk lucu-lucuan saja, tak lebih. Oleh karenanya, saya agak sedikit mafhum untuknya. Akan tetapi sikap saya akan berubah, ketika ia mulai dikapitalisasi oleh beberapa oknum.

Nun diseberang sudut yang lain, mereka, para opportunis — yang juga pemain lama — menangkap tagar itu sebagai komoditas. Istilah Pare Jahat yang semula tanpa tuan, dikaplingnya juga, dikuasainya. Rupanya, ketamakan mereka tak berhenti di penguasaan tanah saja. Segalanya, ingin dikomersialkan juga. Yang awalnya gimmick candaan saja, pada akhirnya jadi serius juga.

William Shakespeare boleh saja mengungkapkan: “What’s in a name? That which we call a rose or by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Tapi saya berbeda dengannya, saya memilih untuk mempercayai, bahwa nama adalah doa. Galibnya doa, ia selayaknya memilih kata yang memiliki makna baik-baik pula.

Baca Juga:  Kampung Inggris Sudah Punya Patriot

Boleh jadi saya adalah bagian dari mereka — yang percaya bahwa nama juga dapat membentuk kepribadian dan mempengaruhi perkembangan emosi dan sifat pemiliknya, baik secara langsung atau tidak. Karena nama dapat membawa citra dan sugesti pada pemiliknya.

“Sadar atau tidak sadar, sebenarnya setiap orang akan terdorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya,” kata ahli restrukturisasi nama, Ni Kadek Kristy Hellen Winatasari, S.Psi, M.Ed, CHt, CI.

Karena dalam sebuah nama ada citra dikandungnya, tentu nama/istilah Pare Jahat tak dapat dikecualikan juga. Saya kira, dalam hal ini kita sepakat, bahwa kata jahat yang tersemat di tagar itu, adalah citra yang bertolak dengan semangat moral yang diusung manusia, dan masyarakat Kampung Inggris Pare pada khususnya.

Name Calling adalah salah satu teknik propaganda.

Bagi mereka, yang dengan serius untuk terus mengangkat istilah tersebut, barangkali belum mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan merupakan salahsatu bentuk dari teknik propaganda yang dinamakan Name Calling, sadar atau tidak sadar.

Name calling adalah teknik propaganda yang menggunakan kata-kata yang menghubungkan seseorang atau ide dengan konsep negatif. Tujuannya untuk membuat orang menolak sesuatu karena asosiasi negatif yang melekat pada orang atau ide tersebut tanpa melihat kenyataannya. Ia juga dapat dijadikan senjata untuk menjatuhkan atau kewibawaan suatu kelompok tertentu, tak terkecuali masyarakat Pare dalam hal ini.

Lantas, apakah saya mengganggap mereka yang mengkapitalisasi tagar Pare Jahat, berniat melakukan teknik itu? Saya sedikit ragu. Akan tetapi, bukan berarti keraguan atas ketidaktahuan mereka, menjadikan saya permisif. Tanggung jawab moral saya sebagai penduduk Kampung Inggris Pare, seyogyanya perlu untuk mengingatkan. Kampung Inggris Pare yang sudah dirawat dan dibesarkan namanya oleh mereka yang berjasa, patut kiranya untuk terus dijaga.

Seperti kita ketahui bersama, bagaimana sejarah Pare dan Kampung Inggris ini berdiri. Perihal bagaimana bapak Kalend berusaha mengangkat Kampung Inggris Pare, untuk memiliki citra yang positif. Ia jadikan yang biasa menjadi primadona. Ia angkat yang tak bermakna, menjadi permata. Pare, ia tinggikan martabatnya, sebagai daerah yang memiliki citra pendidikan bahasa, dengan julukan Kampung Inggris.

Baca Juga:  Kampung Inggris Mencetak Alumni Yang Hanya Jago Kandang?

Lantas, setelah Kampung Inggris Pare diriasnya, memiliki citra sebagai kampung bahasa, Kampung Inggris julukannya. Tiba-tiba ada pihak yang ingin mencoba menggerogoti maknanya, menjadikan citranya jauh dari yang dicita-citakan founding fathernya.

Pihak tersebut rupanya memang serius untuk terus mengangkat Kampung Inggris Pare menjadi daerah yang memiliki citra jahat. Bahkan mereka, dengan sengaja, membiayai kampanye tersebut. Terdengar kabar, ada film yang khusus untuk kembali menggaungkan istilah Pare Jahat.

Mengatakan Pare sebagai kota suci tanpa noda juga berlebihan kiranya. Tentu, saya tidak menutup mata, jika ada kita temui riak-riak kecil energi jahat di dalamnya. Namun bijakkah kita? jika realitas kecil itu, diangkat, kemudian digeneralisasikan menjadi wajah Kampung Inggris Pare seutuhnya, dengan terus-menerus menyematkan istilah jahat kepadanya? Dalam sudut pandang manapun hal itu sepertinya susah untuk diterima, karena selain cacat logika, hal itu tak sesuai dengan fakta.

Pare masih sama, kita saja yang (mungkin) jahat kepadanya.

Barangkali dengan menepi sebentar sambil meminum kopi, memikirkan ulang dengan seksama peristiwa ini. Kita lah yang sebenarnya jahat, yang memberikan istilah jahat kepadanya, yang mengkomersialisasi informasi sesat, demi kepentingan sesaat. Kita lah yang jahat, yang mengeksploitasi, tanpa pernah memberikan kontribusi yang berarti, untuk Pare dan Kampung Inggris ini. Kita terlalu sibuk memikirkan materi untuk diri kita sendiri, tanpa benar-benar peduli pada teman kanan-kiri, pada masa depan Kampung Inggris ini.

Sekali lagi, karena kata adalah doa, maka sepatutnya berbaik-baiklah kita dalam berucap dan bercanda. Barangkali, peristiwa yang baru saja terjadi, kecelakaan antara bus Mira dan Kijang Innova dapat memberikan pelajaran berharga pada kita. Bagaimana sebuah kata-kata candaan yang terlontar dari kita, dijadikan kenyataan oleh Tuhan seketika. Mari kita berkata dan berdoa yang bagus saja, cukupkan yang jahat untuk mereka saja — yang lebih mementingkan pundi-pundi rupiah daripada dampaknya. Sungguh, jika kita tak bisa menjaga, minimal jangan merusaknya. Karena Kampung Inggris Pare adalah kampung kita, tempat banyak orang menggantungkan cita-citanya, tempat masyarakat mengantungkan hajat hidupnya.

Maaf, jika saya terlalu serius menanggapinya, karena bagi saya Kampung Inggris Pare tak se-bercanda itu juga mister.