Repost-Malas-Baca-dan-Kampung-Inggris-di-Instagram

Repost, Malas Baca dan Kampung Inggris di Instagram

KAMPUNG INGGRIS – Dalam sebuah perbincangan di warung kopi, seorang teman mengungkapkan bahwasanya beberapa bulan terakhir ini ia sedang gemar membuat tutorial video berbahasa Inggris yang dibagikan melalui akun Instagram miliknya. Sambil bercerita, dia juga mengeluh tentang sebagian dari karyanya yang di-repost oleh akun-akun lain di Instagram. Meski terkadang mencantumkan ‘credit to’ atau ‘reposted from’, menurutnya perilaku semacam itu masih memungkinkan menggiring persepsi netizen mengikuti akun-akun tersebut, sehingga, takutnya, justru dimanfaatkan sebagai ajang promosi produk yang bahkan tidak ada kaitannya dengan teman saya ini.

Dia menambahkan juga bahwa hal itu sudah termasuk kategori tindakan tidak terpuji karena sudah memanfaatkan video milik orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Namun saya berusaha meredamnya dengan menyatakan bahwa jika memang yang terjadi demikian, bisa saja itu adalah salahsatu resiko bagi seorang selebgram yang seringkali dimanfaatkan tanpa mendapatkan imbalan apa-apa selain viral.

Saya tidak ingin membahas soal pilihan hidup teman saya sebagai selebgram di sini, melainkan sedikit tergoda untuk bersuara menyikapi fenomena maraknya informasi tentang Kampung Inggris yang ada di Instagram beserta dampaknya yang mungkin akan berpengaruh pada persepsi publik. Maklum saja, saya juga termasuk pengguna aktif Instagram sekaligus siswa di Kampung Inggris.

Saya sering kali menemukan beberapa postingan dengan tema Kampung Inggris, baik dari username maupun tagar yang berkeliaran mendominasi panggung Instagram. Jika dilihat dari fitur yang disediakan, Instagram merupakan sebuah aplikasi berbagi karya visual. Terdapat juga fasilitas untuk mengambil foto atau video, menerapkan filter digital, mendeskripsikan foto melalui tulisan dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri.

Dengan fungsi yang seperti itu, tidak heran banyak sekali publikasi berkaitan dengan Kampung Inggris di Instagram, dan itu sah-sah saja karena publik juga berhak mengetahui suasana yang ada di Kampung Inggris walau sebatas gambar maupun video. Malahan semua orang diperkenankan menyebarkan informasi sekreatif mungkin tentang Kampung Inggris. Toh juga, saya yakin banyak yang sepakat bahwa Instagram bisa menjadi etalase karya bagi siapa pun untuk berekspresi. 

Baca Juga:  Kampung Inggris Mencetak Alumni Yang Hanya Jago Kandang?

Well, berbicara tentang karya, pemahaman saya tentang karya ialah hasil dari perbuatan atau pekerjaan. Terlepas karya itu memang murni hasil dari kreasi sendiri atau milik orang lain, kenyataannya Instagram sampai sekarang belum bisa mengidentifikasi itu semua dengan cermat dan rapi. Belum lagi para re-uploader karya orang lain yang turut andil meramaikan Instagram demi memperoleh traffic pengunjung. Konsekuensinya, seolah-olah tidak ada pilihan lain, sebaiknya Content Creator di Instagram wajib bertanggung jawab atas karyanya sendiri, termasuk melindunginya, entah dengan menambah disclaimer, frame atau sekadar watermark.

Respon dari netizen ketika mendapati konten-konten tentang Kampung Inggris di Instagram seringnya memang mengandalkan persepsi masing-masing, artinya masih sangat subjektif. Ditambah lagi dengan karakter pengguna social media di Indonesia, khususnya Instagram yang memiliki kelemahan yaitu mudah percaya terhadap pemberitaan dan tanpa mencari verifikasi terlebih dahulu karena rendahnya minat baca yang mengakibatkan kemampuan berpikir kritis juga rendah saat menerima informasi sehingga sulit membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang palsu.

Kaitannya dengan Kampung Inggris di Instagram, tidak heran jika banyak yang menganggap bahwa semakin banyak follower dan like maka akun tersebut dianggap merepresentasikan Kampung Inggris. Padahal itu semua bukan jaminan, wong sekarang banyak sekali jasa penambah follower maupun like.

Lalu urusan konten, sejauh pengamatan saya ‘keywords’ Kampung Inggris paling banyak didominasi oleh tips and tricks berbahasa Inggris, kondisi lingkungan sekitar, pengalaman siswa dan promosi dari Lembaga Kursus. Saya berharap, khalayak netizen yang ingin belajar di Kampung Inggris bisa lebih selektif dalam memilih Lembaga Kursus. Jangan sampai termakan ‘hoax’ alias informasi palsu. Sekurang-kurangnya terlebih dahulu memastikan bahwa konten yang ditampilkan benar-benar otentik hasil karya asli dan bukan didapat dari repost. Kalau ada postingan, tidak ada salahnya memeriksa ‘credit to’ yang ada pada caption. Kasihan juga para Content Creator sudah bersusah payah membuat karya, eh malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Ingat, dalam setiap postingan ada perjuangan dibalik layar, hargailah mereka.

Baca Juga:  Di Bumi Manusia Iqbal Tak Ubahnya Seperti Saya di Kampung Inggris

Instagram sepertinya masih memiliki potensi besar sebagai media promosi yang strategis. Seperti yang dikutip oleh Katadata, berdasarkan hasil survei WeAreSocial dan Hootsuite pada tahun 2019, Instagram merupakan platform media sosial dengan total pengguna 57 juta atau 20.97 persen dari total populasi di Indonesia, pengguna Instagram terbanyak berasal dari rentang usia 18 tahun hingga 24 tahun untuk pria dan wanita. Studi juga mengungkap di awal tahun 2019 rata-rata jumlah pengguna Instagram laki-laki 1.9 persen lebih banyak dibanding perempuan. See?

Bisa dikatakan pula bahwa Instagram adalah media berkerumun secara digital yang mencerminkan sebuah potensi pasar. Kampung Inggris memang wilayah pendidikan, tapi jangan lupa jika tempat tersebut juga sumber perekonomian yang menggiurkan. Ingat, hanya ada sekat tipis diantara bisnis dan etika, semoga saja tidak ada akun-akun Instagram yang keliru mengatasnamakan Kampung Inggris demi keuntungan semata.

Sudah saatnya mulai bijak untuk menggunakan Instagram. Meskipun urusan verifikasi sebuah postingan bertema Kampung Inggris kini tidak lagi melulu berdasarkan fakta di lapangan, melainkan seberapa gencar pihak-pihak mengklaim diri sebagai representasi Kampung Inggris yang bisa menggiring opini publik melalui Instagram. Setidaknya membentengi diri dengan pikiran rasional dan masuk akal bisa menjadi filter pribadi agar tidak mudah digiring ke dalam jerat kekecewaan karena ekspektasi yang berlebihan serta ketidaktelitian saat mendapatkan Informasi tentang Kampung Inggris. Sungguh ironi jika harus terbawa arus algoritma Instagram dan mengurangi tujuan mulia dari usaha mencerdaskan anak bangsa. Namun, apa pun tantangan ke depan, Kampung Inggris adalah milik semua orang, aset bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.