Teater TAS Mencoba Merebut Panggung Pare

Teater TAS Mencoba Merebut Panggung Pare

KAMPUNG INGGRIS – Menunggu datangnya Sabtu malam (24/08/2019) adalah momen yang tidak biasa kali ini. Saya, layaknya seorang anak kecil yang tidak sabar menunggu suara beduk untuk dapat segera berbuka puasa. Ya, malam minggu ini memang berbeda, saya mendapat kesempatan untuk dipersilahkan menikmati pentas Teater di SMAN 1 Pare, Kediri.

Saya bukan alumni SMAN 1 Pare, saya bukan penduduk asli Kampung Inggris Pare, pun Kediri, saya juga bukan anak teater, saya hanya penikmat sastra dan Seni Panggung. Oleh karenanya, saya sangat excited ketika diberi undangan untuk menikmati pementasan di Kampung Inggris kali ini.

Rupanya, malam itu, tidak hanya saya saja yang antusias-Jalles, putri pertama saya juga terlihat serupa. Ia berulang kali mengingatkan waktu, mengisyaratkan perintah agar saya segera bergegas untuk mengajaknya pergi ke lokasi. Padahal, ia tidak tahu akan sedang menonton pertunjukan seperti apa, yang ia tahu hanya akan diajak bapaknya untuk melihat pementasan teater. Sedang kebingungan dia tentang apa itu teater? tidak saya jelaskan secara terperinci. Ia, saya suruh untuk melihatnya sendiri, mengalaminya.

Transformasi energi panggung sudah saya rasakan ketika pertama kali memasuki area depan sekolah. Panitia yang memakai seragam serba hitam menyambut kami, mengantarkan saya dan Jalles, melewati tirai kain hitam menuju jalan yang yang diterangi oleh lampu obor di sisi-sisinya. Sampailah saya di depan panggung.

Acara dibuka dengan pementasan Tari “Sekar Asmarajati” dari Sanggar Kilisuci. Bahasa Tubuh yang dikomunikasikan oleh 25 penari memaksa kami mematung, meleburkan diri dalam udara yang telah mereka olah. Ada kisah, mungkin juga cinta, dan ada bahasa asmara yang saya tangkap, dalam setiap lekuk gemulai gerak mereka-ada juga ungkapan lembut dalam setiap iramanya. Mereka menyelesaikannya dengan indah, dan itu adalah awal ingatan untuk menyimpannya, karena ia terlalu berkesan untuk dibuat sebagai pengalaman.

Karpet merah digelar di tengah tanah lapang di depan panggung pementasan, penonton menyemut ke tengah, lalu lampu dipadamkan. Saya sejenak menikmati keheranan saya, melihat animo penonton malam itu. Menyaksikan lapangan hampir penuh dengan penonton yang kebanyakan seumuran SMA.

Baca Juga:  Beginilah Lingkungan Yang Hanya Ada Di Kampung Inggris Pare

Panggung pertama kali diambil oleh Teater Terbang dari SMK Ngasem, mementaskan Teater dengan judul Keblinger. Pementasan kedua berjudul Tugu Revolusi, dipresentasikan oleh teater Elit dari SMAN 2 Pare. TAS (Teater anak Sekolah) dari SMAN 1 Pare, mengambil pertunjukan ketiga, dengan judul Remaja Milenium. Pementasan ditutup oleh penampilan dari ATAS (Alumni Teater Anak Sekolah) dengan judul Romansa Christian dan Aisya.

Saya, yang notabene hanya sebagai penikmat, kurang layak jika harus melakukan kritik atas seni panggung, blocking, lighting, scoring dan hal teknis pertunjukan tersebut. Sebagai penikmat dan pembaca teks, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya dapat, apa yang saya alami pada Sabtu malam kemarin.

**

Dalam Catatan Pinggir 5, di judul Lakon dan Lelucon, Goenawan Mohamad (GM) menceritakan dialognya bersama Arifin C. Noer. “Kita, orang Indonesia, tidak tahu bagaimana menampilkan realisme. Kita seakan-akan mengelak untuk berurusan dengan realitas, dengan dunia kehidupan sehari-hari, benda dan manusia, peristiwa yang hadir di luar kesadaran kita.”

Pernyataan dari Arifin C Noer di atas, masih belum dapat dicerna sepenuhnya oleh GM. Ia tidak tahu persis apakah Arifin sedang mengeluh atau hanya menyatakan sebuah fakta tanpa menilai.

Jika GM saja masih belum bisa mencerna sepenuhnya, apalagi saya. Akan tetapi saya sebagai pembaca, bisa saja menjadi sang liyan, menafsirkan sesuai kemampuan saya, sependek pengetahuan yang saya punya.

Jika realisme di dalam seni berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Saya rasa ketiga pementasan oleh anak-anak SMA tersebut masuk di dalamnya, tema yang dibawa adalah bagian keseharian mereka.

Mereka mencoba merepresentasikan realitas yang mereka alami. Cerita yang diangkat adalah kehidupan mereka sehari-hari, dunia anak muda, representasi iklim pendidikan di era virtual, beserta realitas kehidupan anak seumuran SMA.

Baca Juga:  Di Bumi Manusia Iqbal Tak Ubahnya Seperti Saya di Kampung Inggris

Mereka bisa jadi sudah memahami, tubuh telah menjadi teks, saat menginjakkan panggung. Sebagai teks, mereka menceritakan dengan gamblang, tubuh yang sudah fasih merekam apa yang mereka alami dalam hidup, keterbiasaan dan ke-apa-ada-annya, mereka komunikasikan. Yang hyper mereka tanggalkan, mereka cukup mengada, dan membawa apa yang dasein dalam tubuhnya, hingga realitas tersingkap, dan kami membaca dan memahaminya. Tubuh telah bercerita akan realitas hidup mereka dan pembaca.

***

Hanya orang besar yang memiliki visi besar yang mampu menggerakkan orang-orang tanpa merasa dipaksa. Mungkin bu Mudji harus saya masukkan di dalamnya. Saya, tidak tahu bu Mudji Rahayu ini siapa-yang hanya saya tahu, ia adalah sosok yang mampu menggerakkan anak-anak muda SMAN 1 Pare untuk merealisasikan pementasan besar ini dengan wajah penuh perasaan bahagia dan bangga.

Pertunjukan teater, dalam masa-masa ini-khususnya di lingkup sekolahan SMA-barangkali sudah menjadi barang langka. Di saat yang lain berlomba-lomba merepresentasikan pementasan yang berbau pop, mereka memilih berbeda, melawan arus utama.

Saya rasa mereka berhasil, jika diukur secara kuantitas, penontonnya cukup banyak, bahkan area lapangan saat itu terlihat penuh. Pun jika dilihat dari kualitas, terbukti, penonton membaca bahasa tubuh mereka dengan khidmat dan seksama. Gawai dikeluarkan hanya sebatas untuk mengamankan momen, bukan pengalihan akan kebosanan.

Panggung hiburan SMA punya penantang baru, teater kembali menunjukkan eksistensinya. Kampung Inggris Pare mungkin bukan kota sekelas Jogja, tapi semangatnya bisa jadi sama. SMAN 1 PARE Kediri sudah memulai dengan berani, menampilkan hiburan liyan yang tak kalah dengan industri pop kebanyakan, tinggal bagaimana pertarungan panggung ini dimenangkan kemudian. Mampukah ia bertahan di tengah gempuran hiburan instan.

Semoga saja akan datang undangan serupa kedua, ketiga, keempat, atau seterusnya.