Tugu Garuda Kampung Inggris, Riwayatmu Kini

KAMPUNG INGGRIS – Ia mematung sejenak, pandangannya tertuju pada bangunan tugu yang ada di depannya. Bibirnya tertutup, tapi matanya seperti sedang berbicara, mungkin dengan masa lalunya, mungkin dengan ingatannya. Memang, dalam kenangan, kita butuh sebuah simbol monumental, sebagai penanda, sebagai penjaga makna. Tugu Garuda di Kampung Inggris Pare, telah dipilihnya untuk menandai bagian dari dirinya di masa lampau, sebagai bagian dari cerita perjalanan hidupnya.

Teman saya itu bernama Hand, berasal dari Madura. Ia adalah teman satu kos selama kursus bahasa Inggris di tahun 2003. Pare, sebenarnya tidak masuk dalam jadwal rute perjalanan dinasnya. Namun ia sempatkan untuk berkunjung, leren, demi beromantisme, mengingat separuh kisah masa mudanya di sebuah kampung kecil ini.

Sebuah bangunan, mungkin  monumen, mungkin tugu, sejatinya netral, ia tak memiliki  makna, sampai kita memberi arti padanya. Pemaknaan pada monumen Garuda di pertigaan jalan raya Pelem Kampung Inggris Pare-antara pembuat, perancang, penginisiasi, bisa saja berbeda dengan pembacanya. Monumen itu telah menjadi teks, yang berhak ditafsirkan oleh siapapun, tak terkecuali teman saya tersebut.

Barangkali, Hand adalah representasi, dari mereka-siswa kursusan Kampung Inggris Pare-yang pernah merasakan, bagaimana taman di Garuda Park Kampung Inggris Pare kala itu, menjadi ruang keakraban, tempat kebersamaan, tempat berbagi tawa, kegelisahan. Bahkan, tidak sedikit yang berkisah, bahwa Tugu Garuda Kampung Inggris Pare adalah tempat dimana asmara diejawantahkan, dinyatakan-yang hasilnya, bisa saja tawa atau mungkin tangis darah bagi mereka yang berani menunjukkan eksistensi hatinya kala di Kampung Inggris.

Baca Juga:  5 Manfaat Belajar di English Area Camp Kampung Inggris

“Kok sepi gini sekarang ya Ndil?” Ia menyergapku dengan tanya yang bernada lemah, apakah ia kecewa?.

Memang, suasana Taman Garuda saat ini tidak lagi seramai dulu, bahkan bisa dikatakan sangat sunyi. Secara fisik, ia sebenarnnya semakin cantik, tugu yang menjulang ke langit itu dihiasi lampu warna-warni, beberapa bangunannya yang rapuh telah dipugar, diperbaiki, dicat ulang. Tanamannya dipotong hingga memiliki bentuk yang lebih artistik. Tapi, keindahan itu hampa, tanpa ada manusia yang mengada, yang memberinya makna. Ia tak ubahnya bangunan bisu, yang tak mampu berbicara untuk menandai sebuah cerita di suatu masa.

Bukan serangan negara api yang menjadi sebab-musabab Garuda Park Kampung Inggris ini tak lagi bermakna, tapi mungkin, hilangnya pedagang kaki lima di sekitarnya adalah salah satu dari kesekian alasan. Ini terjadi, kira-kira di pertengahan tahun 2015, ketika ada kebijakan dari pemerintah kabupaten Kediri untuk merelokasi dan menertibkan para pedagang kaki lima. Seketika, mereka, para penikmat malam di seberang Jalan Garuda Park, tak lagi terlihat, mereka pergi, meninggalkan Garuda di atas tugu merasakan sepi.

Alasan lain, barangkali menjamurnya tongkrongan di sekitaran Kampung Inggris Pare adalah faktor pendukungnya. Kebanyakan siswa kursusan Kampung Inggris saat ini, lebih memilih menghabiskan malam-malam mereka menikmati dentuman musik dan racikan kopi Barista di beberapa sudut kafe di Kampung Inggris. Karena dianggap lebih instagramable dan kekinian bagi mereka.

Baca Juga:  Pare Masih Sama, Yang Jahat Itu Yang Memanfaatkannya

Rupanya, apa yang saya ceritakan, diamini oleh teman saya-setelah ia saya ajak untuk berkeliling masuk ke sudut-sudut kampung Inggris Pare. Ia kaget, tapi tak begitu takjub, dengan perkembangan yang ada.

Kampung Inggris Pare, yang ada di kenangannya, dalam ingatannya, tak ia dapati lagi saat ini. Perubahan fisik begitu cepat, pemodal masuk, berlari untuk bersaing, mengejar margin kapital sebanyak-banyaknya. Bangunan megah adalah daya tawarnya, berlomba-lomba bersolek wajah, untuk dapat perhatian bagi mereka yang belum pernah datang ke Kampung Inggris Pare sebelumnya.

“Apakah kualitas kursusan mereka, lebih baik dibanding saat jamanku dulu?” Pertanyaan penutup darinya, yang tak mampu saya jawab, karena saya hanya pendengar dan pembaca di kampung Inggris ini. Barangkali kalianlah- yang pernah menjadi bagian dari Kampung Inggris, yang mampu menjawabnya. Atau bisa jadi, kalian yang akan datang, yang akan belajar di Kampung Inggris ini, akan dapat memberikan jawaban bagi teman saya.